
Dosen UMS antar atlet Indonesia raih emas ASEAN Para Games 2025

Solo (ANTARA) - Dosen Atletik dan Olahraga Paralimpik Program Studi Pendidikan Jasmani Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Akhmad Azlan Khoirur Rozikin, S.Pd., M.Or., kembali mengharumkan nama bangsa sekaligus institusi.
Ia sukses mengantarkan atlet binaannya meraih medali emas pada ajang “The 33rd ASEAN Para Games 2025 Thailand” sebagai Pelatih Cabang Olahraga Atletik Tim Nasional Indonesia.
Pada kejuaraan olahraga disabilitas terbesar se-Asia Tenggara tersebut, Tim Nasional Atletik Indonesia mencatatkan prestasi gemilang dengan melampaui target yang telah ditetapkan oleh National Paralympic Committee (NPC) Indonesia kepada pemerintah. Target awal sebanyak 85 medali emas berhasil terlampaui secara signifikan.
“Alhamdulillah, pada pelaksanaannya kita berhasil meraih 135 medali emas dan 145 medali perunggu. Secara peringkat juga melampaui target, dari yang semula menargetkan tiga besar, kita berhasil finis di peringkat kedua ASEAN,” ujar Akhmad Azlan, Selasa.
Capaian tersebut menempatkan Indonesia tepat di bawah tuan rumah Thailand, yang diakui memiliki keunggulan sebagai penyelenggara. Meski demikian, hasil tersebut menjadi bukti peningkatan signifikan performa atletik Indonesia di level regional.
Dalam tim kepelatihan NPC Indonesia, Akhmad Azlan berperan aktif membina atlet-atlet yang berada di bawah tanggung jawabnya. Ia fokus membenahi aspek teknik, kecepatan, dan kekuatan (power) sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing atlet.
“Peran pelatih sangat krusial. Kita harus mampu melihat secara visual kekurangan atlet, lalu memperbaikinya melalui pendekatan teknik dan latihan yang tepat,” jelasnya.
Ia menambahkan sistem kepelatihan Timnas Atletik Indonesia terdiri atas kepala pelatih dan beberapa pelatih pendamping yang masing-masing membawahi atlet tertentu. Pembagian peran tersebut membuat proses pembinaan berjalan lebih efektif dan terarah.
Keberhasilan ini juga tidak lepas dari dukungan penuh berbagai pihak, terutama NPC Indonesia dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Menurut Akhmad Azlan, fasilitas sarana dan prasarana yang diberikan sangat membantu kelancaran pemusatan latihan nasional.
“NPC Indonesia dan Kemenpora memfasilitasi kami secara maksimal, mulai dari tempat latihan, akomodasi, hingga kebutuhan atlet. Atlet jadi bisa fokus berlatih tanpa terbebani hal-hal teknis di luar latihan,” ungkapnya.
Pemusatan latihan atletik disabilitas sendiri dilaksanakan di training center Karanganyar, tepatnya di kawasan Delingan, yang disediakan khusus dan tidak bercampur dengan fasilitas umum. Hal tersebut dinilai mempermudah pengawasan dan efektivitas program latihan.
Dukungan juga datang dari Universitas Muhammadiyah Surakarta. Akhmad Azlan menegaskan UMS, khususnya Program Studi Pendidikan Jasmani FKIP, memberikan kepercayaan dan dukungan moril penuh atas perannya sebagai pelatih atlet disabilitas di level internasional.
“UMS memberikan kepercayaan besar kepada saya untuk mendampingi atlet disabilitas. Dukungan moril ini sangat berarti dalam proses kepelatihan,” ujarnya.
Menurutnya, fase paling krusial dalam pendampingan atlet adalah masa pra-pertandingan. Pada fase ini, pelatih dituntut mampu membangun mental bertanding dan kepercayaan diri atlet agar siap tampil maksimal di arena.
Pengalaman panjang Akhmad Azlan sejak ASEAN Para Games Myanmar 2013, Korea, Singapura, hingga Thailand 2025 menjadi bekal berharga dalam menangani atlet disabilitas dengan berbagai karakteristik, termasuk atlet dengan hambatan visual yang membutuhkan pendekatan dan metode latihan khusus.
Ia juga menekankan relevansi kuat antara olahraga disabilitas dengan pembelajaran adaptif yang dikembangkan di UMS. Keberadaan mata kuliah olahraga paralimpik, perencanaan program latihan, ilmu gizi, serta tes dan pengukuran dinilai sangat mendukung strategi kepelatihannya.
“Keilmuan yang dikembangkan di Pendidikan Jasmani UMS sangat aplikatif. Ini bukan hanya relevan untuk prestasi, tetapi juga membentuk pelatih yang memahami olahraga inklusif,” tegasnya.
Lebih jauh, Akhmad Azlan menilai kurikulum Pendidikan Jasmani UMS berperan penting dalam mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial dan empati terhadap atlet disabilitas.
Melalui prestasi ini, lanjutnya, UMS kembali menegaskan kontribusinya dalam pengembangan sumber daya manusia unggul di bidang olahraga, sekaligus menunjukkan komitmen nyata dalam mendukung olahraga inklusif dan prestasi atlet disabilitas di tingkat nasional hingga internasional.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
