Tahan hama, petani Pati beralih tanam benih padi inpari
Rabu, 7 Februari 2018 11:42 WIB
Seorang petani di Desa Wotan, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, tengah mengikat batang tanaman padi jenis inpari 32 di sawah yang ada di desa setempat, Rabu (7/2). Mayoritas petani di desa setempat menanam varietas padi jenis inpari karena lebih unggul. (foto: Akhmad Nazaruddin Lathif)
Pati (Antaranews Jateng) - Petani di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mulai beralih menggunakan varietas bibit tanaman padi terbaru seperti Inpari 30 maupun Inpari 32 karena lebih tahan hama serta memiliki produktivitas lebih baik.
Menurut salah seorang petani di Desa Wotan, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Sujak, Rabu, dirinya mulai tertarik menggunakan varietas baru yakni Inpari 32 mulai musim tanam pertama.
Saat ini, lanjut dia, usia tanaman padinya sudah memasuki usia 104 hari.
Rencananya, kata dia, saat usia tanaman menginjak 120 hari segera dipanen.
Alasan mengganti varietas tanaman padi dari sebelumnya menggunakan bibit Ciherang, kata dia, karena diklaim lebih unggul.
Selain tahan hama wereng, kata dia, varietas unggul tersebut juga lebih produktif karena setiap hektare lahan bisa menghasilkan gabah kering panen (GKP) hingga 9,2 ton.
Keunggulan tersebut, kata dia, sudah dibuktikan oleh petani di Desa Wotan yang sudah memanen lebih awal.
Petani lainnya, Nur Soleh membenarkan, dirinya juga mulai menanam tanaman padi dengan varietas baru, terutama Inpari 32.
Kata dia, produktivitasnya juga cukup tinggi karena saat tanam menggunakan varietas jenis Ciherang biasanya hanya menghasilkan 5-6 ton GKP.
Selain produktivitasnya rendah, kata dia, tidak tahan hama serta nilai jualnya juga lebih rendah.
Ia mencatat, di Desa Wotan tercatat sudah 90 persen lahan tanaman padi yang menggunakan varietas Inpari.
Dari total lahan seluas 1.723 hektare, kata dia, sebagian besar menggunakan Inpari 32, sedangkan yang masih menggunakan Inpari 30 tidak banyak.
Sirin, penebas padi mengakui, bibit Inpari memang tengah naik daun karena selain tahan hama juga memiliki produktivitas yang tinggi.
Bahkan, lanjut dia, ketika menjadi beras jauh lebih berkualitas karena saat dimasak lebih pulen.
Harga jual di pasaran, kata dia, juga lebih tinggi dibandingkan varietas lainnya, seperti jenis Ciherang.
Ia mengatakan, saat ini harga jualnya mencapai Rp530 ribu per kuwintal ketika dipanen menggunakan combine harvester, sedangkan menggunakan blower harganya Rp500 ribu per kuintal.
Varietas inpari ketika menjadi beras, kata dia, harga jualnya mencapai Rp9.500/kg untuk tingkat pedagang.
Berdasarkan keterangan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementan, inpari juga lebih tahan terhadap genangan air sehingga cocok untuk daerah yang memang sering tergenang banjir.
Menurut salah seorang petani di Desa Wotan, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Sujak, Rabu, dirinya mulai tertarik menggunakan varietas baru yakni Inpari 32 mulai musim tanam pertama.
Saat ini, lanjut dia, usia tanaman padinya sudah memasuki usia 104 hari.
Rencananya, kata dia, saat usia tanaman menginjak 120 hari segera dipanen.
Alasan mengganti varietas tanaman padi dari sebelumnya menggunakan bibit Ciherang, kata dia, karena diklaim lebih unggul.
Selain tahan hama wereng, kata dia, varietas unggul tersebut juga lebih produktif karena setiap hektare lahan bisa menghasilkan gabah kering panen (GKP) hingga 9,2 ton.
Keunggulan tersebut, kata dia, sudah dibuktikan oleh petani di Desa Wotan yang sudah memanen lebih awal.
Petani lainnya, Nur Soleh membenarkan, dirinya juga mulai menanam tanaman padi dengan varietas baru, terutama Inpari 32.
Kata dia, produktivitasnya juga cukup tinggi karena saat tanam menggunakan varietas jenis Ciherang biasanya hanya menghasilkan 5-6 ton GKP.
Selain produktivitasnya rendah, kata dia, tidak tahan hama serta nilai jualnya juga lebih rendah.
Ia mencatat, di Desa Wotan tercatat sudah 90 persen lahan tanaman padi yang menggunakan varietas Inpari.
Dari total lahan seluas 1.723 hektare, kata dia, sebagian besar menggunakan Inpari 32, sedangkan yang masih menggunakan Inpari 30 tidak banyak.
Sirin, penebas padi mengakui, bibit Inpari memang tengah naik daun karena selain tahan hama juga memiliki produktivitas yang tinggi.
Bahkan, lanjut dia, ketika menjadi beras jauh lebih berkualitas karena saat dimasak lebih pulen.
Harga jual di pasaran, kata dia, juga lebih tinggi dibandingkan varietas lainnya, seperti jenis Ciherang.
Ia mengatakan, saat ini harga jualnya mencapai Rp530 ribu per kuwintal ketika dipanen menggunakan combine harvester, sedangkan menggunakan blower harganya Rp500 ribu per kuintal.
Varietas inpari ketika menjadi beras, kata dia, harga jualnya mencapai Rp9.500/kg untuk tingkat pedagang.
Berdasarkan keterangan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementan, inpari juga lebih tahan terhadap genangan air sehingga cocok untuk daerah yang memang sering tergenang banjir.
Pewarta : Akhmad Nazaruddin
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Peringati Hari Bumi Sedunia PT TWB tanam 100 pohon gayam di bantaran Sungai Sileng
22 April 2026 16:30 WIB
KKN MMK Posko 3 UIN Walisongo gelar aksi ekologi, tanam ratusan bibit di Curug Sedandang Gunung Setlerep
17 February 2026 6:10 WIB
Terpopuler - Bisnis
Lihat Juga
PLN dukung program bantuan pasang baru listrik untuk 1.000 keluarga tidak mampu di Jawa Tengah
15 jam lalu
Pemkab Batang terima 3.377 pengajuan perizinan selama triwulan I 2026 melalui MPP
13 May 2026 21:28 WIB
Legislator: Pertumbuhan ekonomi Jateng harus berdampak ke kesejahteraan masyarakat
13 May 2026 19:45 WIB
KAI Purwokerto tambah kapasitas kereta 1450 tempat duduk pada libur panjang akhir pekan
13 May 2026 19:39 WIB