Logo Header Antaranews Jateng

Banjarnegara genjot luas tambah tanam padi guna capai swasembada pangan

Rabu, 22 April 2026 14:47 WIB
Image Print
Pemasangan panel surya sebagai pembangkit listrik untuk pompa air pada sumur berkedalaman 80 meter guna mengairi sawah milik anggota Kelompok Tani Maju Makmur, Desa Derik, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Selasa (14/10/2025). ANTARA/HO-Distankankp Banjarnegara

Banjarnegara (ANTARA) - Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan (Distankan-KP) Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, terus menggenjot luas tambah tanam (LTT) padi sebagai upaya mencapai target swasembada pangan di tengah potensi kemarau panjang tahun 2026.

Kepala Distankan-KP Banjarnegara Firman Sapta Ady di Banjarnegara, Rabu, mengatakan, LTT padi di Banjarnegara pada 2025 mengalami peningkatan sekitar 2.000 hektare, sehingga menjadi 27.000 hektare.

Oleh karena itu, Kementerian Pertanian meningkatkan target LTT di Banjarnegara pada 2026 seluas 4.000 hektare dari realisasi tahun sebelumnya yang seluas 27.000 hektare menjadi 31.000 hektare.

“Target tahun ini cukup berat karena kita harus meningkatkan indeks pertanaman dari sekitar 2,1 menjadi mendekati 2,8 hingga 2,9 atau hampir tiga kali tanam dalam setahun,” katanya.

Dengan luas baku sawah sekitar 11.000 hektare, kata dia, pencapaian target tersebut membutuhkan upaya maksimal agar sebagian besar lahan dapat ditanami padi hingga tiga kali dalam setahun.

Pihaknya juga terus menyisir potensi lahan, termasuk mendorong petani yang sebelumnya menanam komoditas lain untuk kembali menanam padi, terutama pada lahan yang memiliki dukungan irigasi memadai.

Ia mengatakan kondisi harga gabah yang relatif baik di tingkat petani saat ini turut menjadi faktor pendorong meningkatnya minat petani untuk menanam padi.

“Petani tentu mempertimbangkan aspek ekonomi. Saat harga padi bagus, mereka cenderung kembali ke padi. Ini menjadi peluang bagi kami untuk mengejar target swasembada,” kata Firman.

Meskipun demikian, dia mengakui tantangan mulai muncul pada musim tanam kedua seiring adanya prediksi kemarau panjang berdasarkan analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Menurut dia, kondisi cuaca di sejumlah wilayah Banjarnegara hingga saat ini masih diwarnai hujan, namun persiapan tetap dilakukan sejak dini guna menjaga keberlanjutan produksi padi pada musim kemarau.

Oleh karena itu, Distankan-KP mulai melakukan berbagai langkah antisipasi, di antaranya mendorong petani menggunakan varietas padi tahan kekeringan, khususnya pada lahan dengan indeks pertanaman tinggi atau tanam tiga kali setahun (IP3).

“Kami sudah sosialisasikan kepada petani agar menggunakan benih yang lebih tahan kekeringan atau membutuhkan air lebih sedikit,” katanya.

Selain itu, kata dia, optimalisasi sarana dan prasarana irigasi juga dilakukan, termasuk pemanfaatan jaringan irigasi perpipaan, sistem perpompaan, serta sumur dalam yang telah dibangun pada tahun sebelumnya.

Ia mengatakan sistem pompanisasi di Banjarnegara umumnya memanfaatkan sumber air permukaan seperti sungai dan telaga yang dipompa ke lahan pertanian.

“Banyak titik pompa yang sudah siap digunakan. Bahkan sebagian petani sudah beralih ke pompa air yang menggunakan listrik sehingga tidak terlalu bergantung pada bahan bakar minyak,” katanya.

Pihaknya juga menjalin kerja sama dengan PLN untuk mendukung penyediaan jaringan listrik hingga ke area persawahan guna menunjang operasional pompa air.

Bahkan, kata dia, sejumlah petani pun memanfaatkan energi surya sebagai pembangkit listrik untuk menghidupkan pompa air.


Baca juga: Dinas Pertanian Banyumas optimistis produksi padi pada 2026 meningkat



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026