Logo Header Antaranews Jateng

Dinas Pertanian Banyumas optimistis produksi padi pada 2026 meningkat

Rabu, 15 April 2026 15:46 WIB
Image Print
Persemaian padi yang disiapkan petani untuk musim tanam pertama tahun 2026 di Desa Wiradadi, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (15/4/2026). ANTARA/Sumarwoto

Purwokerto, Jateng (ANTARA) - Dinas Pertanian (Dintan) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, optimistis produksi padi pada 2026 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya seiring percepatan tanam dan penguatan dukungan sarana dan prasarana pertanian.

Kepala Dintan Kabupaten Banyumas Arif Sukmo Buwono di Purwokerto, Rabu, mengatakan produksi padi 2025 mencapai sekitar 386 ribu ton.

"Target tahun ini ada peningkatan sekitar 0,05 persen atau (menjadi) kisaran 390 ribu ton. Kami optimistis bisa tercapai," katanya.

Ia mengatakan percepatan tanam menjadi salah satu strategi utama yang terus didorong kepada petani pada musim tanam pertama tahun 2026, terutama memanfaatkan sisa musim hujan untuk mengantisipasi kekeringan saat musim kemarau.

Menurut dia, percepatan tanam masih menjadi tantangan karena belum sepenuhnya menjadi kebiasaan petani.

Akan tetapi, pihaknya terus mengintensifkan koordinasi dengan penyuluh pertanian lapangan (PPL), pemerintah desa, hingga badan usaha milik desa (BUMDes).

"Kami terus melakukan sosialisasi agar percepatan tanam segera dilakukan untuk antisipasi kekeringan," katanya.

Selain itu, kata dia, dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan), penyediaan benih, serta penguatan kelembagaan kelompok tani juga telah berjalan dengan baik.

Meskipun demikian, dia mengatakan ketersediaan air masih menjadi kendala utama di sejumlah wilayah, terutama daerah yang berpotensi rawan kekeringan.

Ia mengatakan luas lahan sawah di Banyumas sekitar 30 ribu hektare, dengan beberapa wilayah yang masih berpotensi mengalami kekeringan seperti Purwojati, Wangon, Lumbir, Jatilawang bagian selatan, serta sejumlah daerah di Sumpiuh.

"Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten memberikan dukungan melalui program penyediaan air, termasuk pembangunan pompa atau pompanisasi guna mengurangi dampak kekeringan," katanya.

Selain itu, kata dia, petani juga didorong menggunakan varietas padi gogo yang lebih tahan terhadap kondisi minim air sehingga tetap dapat berproduksi.

Sementara area persawahan di wilayah lereng Gunung Slamet, lanjut dia, relatif aman dari ancaman kekeringan karena memiliki sumber air yang cukup melimpah.

Terkait pengelolaan irigasi, pihaknya juga berkoordinasi dengan dinas pekerjaan umum dan pengairan untuk memastikan distribusi air tetap optimal meskipun terdapat kegiatan perbaikan saluran.

"Pengaturan air dilakukan dengan sistem buka-tutup agar sawah tetap mendapat aliran," katanya.

Ia mengatakan sistem irigasi terintegrasi dari jaringan primer, sekunder, hingga tersier terus dioptimalkan agar distribusi air lebih merata.

Di sisi lain, ketersediaan pupuk dipastikan aman meskipun sebelumnya sempat terjadi keterlambatan pada awal tahun.

"Kami sudah diskusi dengan Pupuk Indonesia agar ketersediaan pupuk dijadwalkan sesuai dengan waktu tanam sehingga diharapkan memang tidak terjadi keterlambatan," katanya.

Ia mengatakan saat ini distribusi pupuk telah dijadwalkan sesuai waktu tanam dan terus dipantau hingga tingkat kios.

"Dengan berbagai langkah tersebut, kami optimistis produksi padi tetap terjaga dan meningkat guna mendukung swasembada dan ketahanan pangan daerah," kata Arif.

Baca juga: Bulog Banyumas-Babinsa tetap laksanakan sergap saat libur panjang



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026