
Bau Belerang Menyengat di Sungai Gumawang Baturraden

Kepala Subbagian Tata Usaha Lokawisata Baturraden, Kusmantono, mengatakan bau belerang tersebut tercium sekitar pukul 09.00 - 10.00 WIB.
"Biasanya tidak pernah tercium bau belerang di Sungai Gumawang," katanya.
Kendati demikian, dia menduga bau belerang tersebut muncul akibat adanya banjir di sumber air panas Pancuran Tiga yang meluber ke Sungai Gumawang pada Rabu (7/5) malam, bukan disebabkan aktivitas Gunung Slamet yang saat ini berstatus "Siaga" (level III).
"Sepertinya dari banjir tadi malam karena Gunung Slamet tampak biasa-biasa saja," katanya.
Dalam kesempatan terpisah, Kepala Bidang Geologi Sumber Daya Mineral dan Air Tanah pada Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kabupaten Banyumas, Sigit Widiadi mengatakan bahwa pihaknya belum bisa memastikan apakah bau belerang di Sungai Gumawang terkait dengan aktivitas vulkanik Gunung Slamet.
Menurut dia, terciumnya bau belerang itu membutuhkan kajian mendalam meskipun mata air Sungai Gumawang berada di Gunung Slamet.
Selain itu, kata dia, di puncak gunung tidak terdapat kaldera yang menampung air dengan kandungan sulfur atau belerang tinggi.
"Peningkatan kandungan sulfur pada gunung yang sedang beraktivitas memang sangat mungkin. Tapi dari hasil pantauan terakhir kami beberapa waktu lalu, suhu air di sumber air panas Pancuran Tiga dan Pancuran Tujuh masih dalam batas normal," katanya.
Sementara, dalam siaran persnya, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Surono mengatakan bahwa berdasarkan pengamatan terhadap Gunung Slamet yang dilakukan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Pos Pengamatan Gunung Api Slamet di Desa Gambuhan, Kabupaten Pemalang, pada hari Kamis (8/5), pukul 06.00-12.00 WIB, teramati tiga kali letusan asap setinggi 300-500 meter dari puncak dan condong ke arah barat.
Dari sisi kegempaan, kata dia, tercatat lima kali gempa letusan dan 15 kali gempa embusan asap.
"Terjadi kecenderungan penurunan jumlah gempa dan intensitas letusan atau embusan asap, namun masih ada tanda-tanda penggelembungan tubuh Gunung Slamet. Kami masih pertahankan stasus 'Siaga' Slamet dan secara menerus memantau dan lakukan analisis data-data guna evaluasi aktivitasnya," kata dia menjelaskan.
Oleh karena itu, dia mengimbau agar tidak ada aktivitas masyarakat dalam radius 4 kilometer dari puncak karena Gunung Slamet masih berstatus "Siaga".
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2026
