
Jepara Andalkan Cemara Untuk Rehabilitasi Pantai

"Pohon cemara lebih tahan dengan terpaan angin laut dan air garam, sehingga sangat tepat ditanam di bagian depan garis pantai," kata Kabid Kehutanan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Jepara Joko Purnomo di sela-sela acara penanaman 55.000 pohon oleh Pertamina Pemasaran Wilayah Jateng dan DIY di Jepara, Sabtu.
Dalam kesempatan tersebut, Pertamina menanam 55.000 pohon jenis cemara udang, cemara laut, nyamplung, dan kelapa.
Joko menjelaskan spesifikasi cemara udang memiliki akar yang banyak dan pohonnya tidak terlalu tinggi. Akar yang banyak tersebut dapat menahan abrasi.
Sementara cemara laut dapat ditanam di lapisan kedua karena memiliki akar yang dalam dan pohonnya tinggi.
Dalam waktu tiga hingga empat tahun dengan jarak tanam dua kali tiga meter, lanjut Joko, diharapkan pohon cemara tersebut sudah mampu tumbuh sesuai harapan dan dapat menahan angin dari laut sehingga kecepatan ombak juga berkurang.
"Jika tanaman mangrove ditanam di baris depan, bisa hilang seperti pengalaman selama ini. Setiap musim angin barat, angin kencang dan ombak tinggi, mangrovenya jadi hilang," katanya.
Penahan angin dari laut semakin lengkap dengan penanaman pohon nyamplung di lapisan ketiga dari garis pantai, karena nyamplung juga mempunyai akar yang dalam dan pohon lebih tinggi serta lebih rindang. Nyamplung juga memiliki daun lebar dan terdapat lapisan lilin, sehingga tahan terhadap air garam.
Sementara pohon kelapa dijadikan selingan sekaligus mengembalikan sejarah pantai Jepara yang pada tahun-tahun sebelumnya juga banyak pohon kelapanya.
"Tanaman mangrove nantinya sifatnya juga sebagai selingan dan targetnya bisa menjadi sahabat nelayan, di bawah mangrove bisa dijadikan area untuk pembesaran kepiting sehingga dapat memberi nilai tambah ekonomi masyarakat setempat," katanya.
Tahun 2012, Pemkab Jepara menargetkan menanam 200 ribu pohon di kawasan pantai dan di tahun 2013 diharapkan bisa menanam 300 ribu pohon tidak hanya mangrove tetapi jenis lainnya.
Pewarta: Akhmad Nazaruddin
Editor:
Zuhdiar Laeis
COPYRIGHT © ANTARA 2026
