
Strategi Intel Hadapi Big Data

"Big Data sudah mulai masuk ke Indonesia. Intel telah menyiapkan berbagai strategi untuk menghadapi era Big Data ini," kata Director Strategic Business Development Intel Indonesia, Harry K. Nugraha, di sela-sela seminar "Big Data Trend 2nd Round: Infrastructure and Demand Challenges", di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, sebagai penyedia platform Intel siap menjalankan perannya untuk mendistribusikan analisa ke sensor terakhir atau perangkat dan mendorong arsitektur yang terstandarisasi,dapat dikelola, dan aman.
Selanjutnya, ia mengemukakan, mengakselerasi analisa terkait Big Data melalui penggunaan unit utama pemroses komputer (CPU) yang lebih cepat, unit penyimpan data (storage), dan arsitektur jaringan yang lebih efektif.
Ia mengemukakan pula tengah mendorong inovasi aplikasi terkait Big Data dengan meningkatkan kemampuan dan layanan piranti lunak.
"Terakhir menggandeng rekanan untuk mengembangkan Big Data, dan berinvestasi di penelitian bersama para akademisi," ujar Harry.
Fenomena Big Data sedang hangat diperbincangkan di kalangan dunia usaha. Tren penggunaan akses komunikasi data dalam aktivitas sehari-hari, baik korporat maupun ritel, membuat trafik dan pengelolaan data menjadi kian tak terbendung," ujarnya.
Harry menjelaskan, Big Data dapat digambarkan dengan miliaran pengguna teknologi informasi yang terhubung satu sama lain baik di internet maupun perangkat komunikasi lainnya.
Lonjakan trafik data ini diperkirakan sudah lebih dari 1.500 exabytes yang lalu lalang di jaringan komputer berjaringan ibarat di awan (cloud computing) dan sekitar 1.400 exabytes di sistem data terintegrasi.
Dengan lonjakan trafik ini, maka media penyimpanan (storage capacity) yang dibutuhkan untuk menampung data bisa melonjak 690 persen dalam tiga tahun ke depan atau pada tahun 2015.
Media jejaring sosial
Berdasarkan pengamatan, pertumbuhan Big Data dipicu dari data yang tidak terstruktur pada jenis komunikasi media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram.
Data dari media sosial yang tidak terstruktur seperti konten, teks, audio, video, dan gambar, bercampur menjadi satu dengan data korporasi yang memang sudah terstruktur mulai dari data klien, produk, hingga transaksi perdagangan.
"Menyimpan dan mengelola data dengan kapasitas dan volume yang luar biasa besar ini menjadi tangangan bagi kami," kata Harry.
Untuk itu, ia menambahkan, untuk mengambil peluang dari Big Data tersebut, harus diantisipasi dengan terus membangun storage yang merupakan faktor intelligence dan pergerakan ke penyimpanan terdistribusi.
"Tingkat pertumbuhan dari penyimpanan terdistribusi itu sangat impresif, jauh melebihi permintaan untuk teknologi IT terdahulu," ujarnya.
Sementara itu, Pendiri Indonesian Cloud Forum (ICF), Teguh Prasetya, mengatakan, ledakan Big Data bisa menjadi peluang bisnis yang besar jika diantisipasi dengan tepat dan cepat.
Namun sebaliknya, ia menyatakan, jika penyedia infrastruktur dan operator komunikasi gagal atau terlambat mengantisipasi risikonya bisa menjadi bencana.
"Bencana ini bisa menimpa penyedia data center. Untuk itu upaya meningkatkan kapasitas dari sisi piranti lunak, piranti keras dan jaringan merupakan hal yang wajib dilakukan," ujar Teguh.
Mengutip Big Data Market Forecast 2012-2017, pada tahun 2012 pasarnya mencapai 5,1 miliar dolar AS, dan diproyeksikan meningkat sekitar 10 kali lipat menjadi 53,4 miliar dolar AS pada 2017.
Pewarta: -
Editor:
Totok Marwoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
