"Itu (pakaian karung goni, red.) merupakan benda bersejarah paling khas yang dipakai rakyat Indonesia semasa penjajahan Jepang pada 1942," kata penjaga stan Museum Mandala Bakti Gandung Raharja (49) di Semarang, Jumat.
Gandung yang juga pemandu museum itu menjelaskan bahwa seluruh koleksi museum selalu terjaga perawatannnya, termasuk pakaian karung goni yang menjalani proses fumigasi (penghilangan jamur) secara berkala.
Pada ajang Jateng Fair 2012 yang berlangsung 29 Juni-8 Juli 2012 itu, museum milik Komando Daerah Militer (Kodam) IV/Diponegoro itu juga menampilkan berbagai koleksi senjata perang dari seluruh Indonesia.
"Senjata-senjata itu berasal dari seluruh Indonesia saat masa perjuangan, baik senjata buatan sendiri, senjata tradisional, maupun senjata rampasan dari penjajah ketika awal kemerdekaan," katanya.
Sebagian senjata yang dipamerkan, kata dia, merupakan senjata yang dipakai saat perang kemerdekaan hingga tahun 1960-an, selebihnya masih ada sekitar 1.000 jenis senjata yang tersimpan rapi di museum.
Ia menceritakan bahwa gedung yang sekarang ini ditempati sebagai Museum Mandala Bhakti Semarang itu merupakan peninggalan Pemerintah Kolonial Belanda yang pada 1906 digunakan sebagai Kantor Pengadilan Tinggi.
"Pada 1949, bangunan itu berhasil direbut oleh pasukan Divisi 3 di bawah pimpinan Gatot Subroto dan dijadikan sebagai markas. Baru pada 1985 bangunan itu dimanfaatkan sebagai museum hingga sekarang," katanya.
Berkaitan dengan partisipasi Museum Mandala Bhakti dalam ajang Jateng Fair 2012, ia mengungkapkan pihaknya ingin lebih mengenalkan museum kepada masyarakat, salah satunya dengan mengikuti ajang tahunan itu.
"Dengan memamerkan berbagai benda bersejarah saat masa perjuangan, mulai dari senjata hingga pakaian khas yang dikenakan rakyat saat itu, kami berharap bisa menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air," kata Gandung.
Sementara itu, Bayu Aryono (23), salah satu pengunjung Jateng Fair 2012 yang ditemui di stan museum itu mengaku tertarik karena bisa melihat dan sekadar menjajal senjata-senjata yang digunakan oleh para pejuang.
"Saya senang karena bisa melihat bagaimana senjata-senjata yang digunakan para pejuang saat perang dulu. Dalam waktu dekat, saya juga akan mengunjungi museum ini untuk melihat koleksi lengkapnya," katanya.

