
Endah Purbarani dan jejak Kartini di Kilang Cilacap

Sekarang perempuan punya kesempatan yang sama untuk belajar, berkarier, bahkan memimpin
Cilacap (ANTARA) - Di tengah gemuruh mesin dan kompleksitas operasional Kilang Cilacap, sosok Endah Purbarani melangkah mantap menembus batas yang selama ini kerap dilekatkan pada dominasi laki-laki di industri energi.
Sebagai Manager Refinery Business and Optimization (RBO) PT Pertamina Patra Niaga RU IV Cilacap, Endah menjadi satu-satunya perempuan di level manajemen pada lini tersebut. Perannya tidak sekadar strategis, tetapi juga merepresentasikan perubahan tentang semakin terbukanya ruang bagi perempuan untuk berkiprah di sektor migas.
Perjalanan kariernya dimulai pada 2008, setelah menamatkan pendidikan S1 Teknik Kimia di Universitas Sriwijaya. Tanpa ragu, ia menerima penempatan di operasional kilang—sebuah pilihan yang kala itu tidak banyak diminati perempuan.
Lingkungan kerja yang menuntut kesiapan fisik dan mental tinggi menjadi tantangan awal yang harus dihadapinya. Ia terbiasa bekerja dalam sistem shift, melakukan pekerjaan lapangan di ketinggian, memasuki ruang terbatas (confined space), hingga menjalankan tugas di fasilitas Single Point Mooring (SPM) yang berada sekitar 10 mil dari pesisir selatan Cilacap.
“Awalnya tentu tidak mudah, tapi dukungan dari rekan-rekan kerja sangat luar biasa. Itu yang membuat saya bisa terus bertahan dan berkembang,” kata Endah.
Pengalaman penting yang membentuk karakter kepemimpinannya terjadi pada 2010 saat ia dipercaya menjadi pemimpin proyek penggantian katalis di unit Fuel Oil Complex I. Selama 20 hari, ia hampir sepenuhnya berada di lapangan untuk memastikan setiap tahapan berjalan aman dan sesuai rencana.
“Tantangan terbesar justru bagaimana menjaga fokus dan keselamatan tim. Alhamdulillah, semua bisa dilalui dengan baik,” ujarnya.
Kini, Endah mengemban peran penting dalam mengatur strategi pengolahan minyak mentah di kilang berkapasitas 348 ribu barel per hari. Kompleksitas operasional yang tinggi menuntut ketelitian sekaligus kemampuan mengambil keputusan secara cepat dan tepat.
Di bawah kepemimpinannya, lahir inovasi “Block Mode” yang menjadi tonggak fleksibilitas operasional kilang. Melalui inovasi ini, unit pengolahan tidak lagi bergantung pada satu jenis minyak mentah, melainkan mampu mengolah campuran dari berbagai sumber, baik domestik maupun impor.
Kemampuan adaptasi tersebut menjadi semakin penting di tengah dinamika geopolitik global yang memengaruhi pasokan energi. Inovasi tidak hanya berdampak pada efisiensi dan profitabilitas, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional.
Di balik ketegasan dalam memimpin, Endah membawa pendekatan yang menekankan komunikasi, kolaborasi, dan empati. Ia meyakini kehadiran perempuan di industri migas bukan sekadar pelengkap, melainkan kekuatan strategis dalam membangun tim yang solid.
Baginya, semangat Kartini tetap relevan hingga kini, terutama dalam membuka peluang kesetaraan bagi perempuan di berbagai bidang.
“Sekarang perempuan punya kesempatan yang sama untuk belajar, berkarier, bahkan memimpin. Tinggal bagaimana kita percaya pada diri sendiri dan terus berkembang,” katanya.
Ia juga menyoroti peran komunitas Perempuan Pertamina Tangguh, Inspiratif, Wibawa, Integritas (PERTIWI) yang menjadi wadah penting dalam mendorong lahirnya pemimpin perempuan melalui program mentoring, pelatihan, dan pengembangan kapasitas.
Pada momentum Hari Kartini, Endah mengajak perempuan Indonesia untuk terus yakin pada kemampuan diri dan berani mengambil peluang.
“Perempuan bisa bekerja maksimal, berkolaborasi dengan pria, bahkan menjadi pemimpin di perusahaan, dan tetap menjaga keseimbangan dalam keluarga. Kita bisa menjadi Kartini masa kini,” ujarnya.
Di tengah deru kilang dan dinamika industri energi, kisah Endah Purbarani menjadi potret tentang ketekunan dan keberanian. Ia tidak hanya hadir sebagai bagian dari sistem, tetapi juga memberi arah, mengalirkan inovasi, sekaligus menyalakan semangat Kartini di setiap langkahnya.
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
