
Akademisi: Idul Adha bangun empati sosial dan solidaritas umat

Purwokerto (ANTARA) - Akademisi Universitas Islam Negeri Prof KH Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto Muridan mengatakan spirit Idul Adha memiliki makna lebih luas dari ritual keagamaan tahunan karena juga menjadi sarana membangun empati sosial, kepedulian, dan solidaritas umat.
“Idul Adha bukan hanya momentum ritual keagamaan yang hadir setiap tahun, juga ruang refleksi sosial bagi umat Islam,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat.
Ia yang tengah menunaikan ibadah haji itu mengatakan di tengah gema takbir dan pelaksanaan kurban, Islam sesungguhnya sedang mengajarkan makna kepedulian, pengorbanan, dan kasih sayang antarsesama.
Menurut dia, Idul Adha tidak cukup dimaknai sebatas ibadah simbolik, melainkan juga sebagai pendidikan sosial yang membentuk manusia agar lebih peka terhadap kondisi di sekitarnya.
Dalam perspektif sosiologi Islam, kata dia, manusia dipandang sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan dan saling menguatkan, sehingga kualitas keberagamaan seseorang tidak hanya diukur dari hubungan vertikal dengan Allah, juga dari sejauh mana mampu menghadirkan manfaat bagi lingkungan sosialnya.
Ia mengatakan pemikiran cendekiawan Muslim klasik Ibnu Khaldun mengenai ashabiyah atau solidaritas sosial masih relevan dalam kehidupan modern yang cenderung individualistik.
“Suatu komunitas akan menjadi kuat apabila anggotanya memiliki rasa kebersamaan, kepedulian, dan tanggung jawab kolektif. Sebaliknya, masyarakat akan melemah ketika setiap individu hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri,” katanya.
Ia menilai kemajuan teknologi memang membuat manusia semakin mudah terhubung, namun belum tentu semakin dekat secara emosional sehingga spirit Idul Adha penting untuk menghidupkan kembali kepekaan hati terhadap kondisi sesama.
Menurut dia, kurban dalam Islam bukan sekadar aktivitas menyembelih hewan, melainkan simbol pendidikan jiwa agar manusia belajar melepaskan sebagian yang dimiliki demi kemaslahatan orang lain.
Ia juga menyinggung pemikiran Imam Abu Hamid al-Ghazali yang menekankan pentingnya membersihkan hati dari sifat rakus, sombong, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia karena hati yang sehat akan lebih mudah merasakan penderitaan orang lain.
Ia mengatakan pembagian daging kurban kepada masyarakat tanpa membedakan status sosial mencerminkan nilai kesetaraan, kasih sayang, sekaligus penguatan hubungan sosial dalam masyarakat.
“Pada akhirnya, spirit Idul Adha mengingatkan bahwa manusia terbaik bukanlah mereka yang hidup hanya untuk dirinya sendiri, melainkan mereka yang mampu memberi manfaat bagi sesama,” katanya..
Muridan mengharapkan semangat Idul Adha dapat terus dimaknai sebagai latihan spiritual dan sosial untuk membangun masyarakat yang lebih peduli, saling menguatkan, dan penuh keberkahan.
Baca juga: BPOM Banyumas mengampanyekan penggunaan obat aman kepada mahasiswa
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
