
Di balik gurih kepiting, ada peran Pertamina di Kutawaru

Kampoeng Kepiting merupakan bagian dari program Masyarakat Mandiri Kutawaru (Mamaku),
Cilacap (ANTARA) - Pagi di pesisir Kutawaru datang tanpa tergesa. Kabut tipis masih menggantung di antara rimbun mangrove, sementara air pasang perlahan mengangkat perahu-perahu kecil yang bersandar di tepian.
Dari kejauhan, suara mesin perahu bercampur dengan tawa pengunjung yang mulai berdatangan, menapaki perjalanan menuju Kampoeng Kepiting, sebuah sudut sederhana yang kini menjadi wajah baru harapan warga.
Perjalanan menuju tempat itu bukan sekadar perpindahan jarak, melainkan juga pergeseran cerita. Dahulu, laut adalah ruang penghidupan utama bagi sebagian warga Kutawaru. Kini, di tangan yang sama, laut dan tambak menjelma menjadi sumber ekonomi yang lebih beragam, dari budidaya hingga wisata kuliner.
Di Kampoeng Kepiting Kutawaru, setiap hidangan menyimpan kisah. Kepiting cangkang lunak yang digoreng renyah, udang segar dengan bumbu khas pesisir, hingga olahan seafood lain yang disajikan hangat di meja kayu menghadap laut. Rasa gurih yang tersaji bukan hanya hasil olahan dapur, tetapi juga buah dari proses panjang yang melibatkan kerja, pembelajaran, dan kebersamaan.
“Kalau Lebaran seperti ini, suasananya berbeda. Lebih ramai, pesanan juga meningkat,” kata pengelola Kampoeng Kepiting Kutawaru, Warrie Anto.
Ramainya kunjungan bukan sekadar kesan. Sepanjang Maret 2026, tercatat 623 pengunjung datang, meningkat dibanding Februari yang mencapai 526 orang. Seiring itu, omzet pun ikut terdongkrak, dari Rp67 juta menjadi Rp92 juta, angka yang bagi warga setempat menjadi penanda perubahan nyata.
Bagi pengunjung seperti Hamzah dari Kabupaten Tegal, Kutawaru menawarkan pengalaman yang tak mudah ditemukan di tempat lain. Ia datang karena penasaran, namun pulang dengan kesan yang lebih dalam.
“Tempatnya tenang, alami. Makanannya segar, suasananya juga enak untuk kumpul keluarga,” katanya.
Namun di balik kenyamanan yang dirasakan pengunjung, ada cerita panjang tentang proses pemberdayaan. Kampoeng Kepiting merupakan bagian dari program Masyarakat Mandiri Kutawaru (Mamaku), yang dikembangkan dengan dukungan Pertamina Patra Niaga RU IV Cilacap.
Program ini membuka jalan bagi mantan Anak Buah Kapal (ABK) dan mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) untuk membangun kehidupan baru di kampung halaman. Mereka tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pekerjaan di luar daerah atau di tengah laut lepas, tetapi mulai mengelola potensi lokal yang ada di sekitar mereka.
Area Manager Communication Relations dan CSR RU IV Cilacap Agustiawan mengatakan perubahan tersebut tidak terjadi dalam waktu singkat. Pendampingan dilakukan melalui berbagai pelatihan, mulai dari teknik budidaya tambak, pengolahan hasil perikanan, hingga penguatan layanan wisata.
“Peningkatan kapasitas ini penting agar masyarakat tidak hanya bisa memproduksi, tetapi juga melayani dan mengembangkan usaha secara berkelanjutan,” katanya.
Hasilnya mulai terlihat, Kampoeng Kepiting yang awalnya dikenal terbatas di lingkup lokal, kini menarik perhatian pengunjung dari berbagai daerah seperti Purwokerto, Purbalingga, Tegal, Pangandaran hingga Bandung. Media sosial turut menjadi jembatan yang memperluas jangkauan cerita dari Kutawaru ke luar daerah.
Di tempat ini, Lebaran menghadirkan makna yang lebih luas. Bukan hanya tentang tradisi berkumpul, tetapi juga tentang perputaran ekonomi yang memberi dampak langsung bagi warga. Setiap meja yang terisi, setiap pesanan yang datang, menjadi bagian dari roda penghidupan yang terus bergerak.
Sore hari di Kutawaru, saat matahari mulai turun dan cahaya keemasan menyentuh permukaan air, Kampoeng Kepiting tetap hidup. Pengunjung menikmati hidangan, anak-anak berlarian di tepi dermaga, dan perahu-perahu kembali bersandar membawa hasil tambak.
Di balik sepiring kepiting yang tersaji, ada cerita tentang mereka yang memilih pulang dan membangun. Tentang upaya yang tidak selalu mudah, namun perlahan membuahkan hasil. Dari pesisir yang tenang ini, Kutawaru menunjukkan bahwa perubahan bisa tumbuh dari hal sederhana, ketika potensi lokal bertemu dengan pendampingan yang berkelanjutan.
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
