
BPBD: Wilayah Banjarnegara diprediksi kemarau basah pada 2026

Banjarnegara (ANTARA) - Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjarnegara Aji Piluroso mengatakan wilayah Banjarnegara, Jawa Tengah (Jateng), diprediksi akan mengalami kemarau basah pada 2026, meskipun fenomena El Nino berpotensi memicu musim kemarau yang lebih panjang dan panas.
"Prediksi tersebut diperoleh berdasarkan hasil koordinasi dengan BPBD Provinsi Jawa Tengah bersama Kepala Pelaksana BPBD kabupaten/kota se-Jateng terkait kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau tahun ini. Banjarnegara diperkirakan masih mengalami kemarau basah, artinya pada periode kemarau masih ada potensi hujan, tidak kering total seperti daerah lain," katanya di Banjarnegara, Senin.
Berdasarkan prakiraan cuaca yang dikeluarkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), lanjutnya, awal musim kemarau di sejumlah daerah diprakirakan mulai April, sedangkan di Banjarnegara diprediksi terjadi pada Mei 2026.
Ia mengharapkan kondisi tersebut dapat mengurangi dampak kekeringan, khususnya di wilayah-wilayah yang selama ini menjadi langganan krisis air bersih.
Meskipun demikian dia tetap mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi warga di daerah rawan kekeringan agar dapat mengantisipasi kemungkinan terburuk.
"Masyarakat di wilayah rawan diharapkan bisa lebih dini mendeteksi potensi kekeringan dan segera melaporkan jika mengalami kekurangan air bersih selama beberapa hari," katanya.
Menurut dia, laporan dari masyarakat akan mempercepat penanganan, termasuk penyaluran bantuan air bersih melalui distribusi yang dilakukan oleh BPBD.
Sebagai langkah mitigasi, kata dia, BPBD Banjarnegara telah melakukan berbagai upaya, antara lain pembangunan sumur bor di sejumlah titik rawan kekeringan.
Ia mengharapkan keberadaan sumur bor tersebut dapat mengurangi jumlah wilayah terdampak dibandingkan saat kemarau ekstrem pada tahun 2023.
Berkaca pada data historis dampak kekeringan terparah, kata dia, BPBD mencatat sedikitnya 21 desa dari tujuh kecamatan di wilayah selatan Banjarnegara berpotensi mengalami kekeringan, yakni Susukan, Purwareja Klampok, Mandiraja, Wanadadi, Pagedongan, dan Rakit.
"Wilayah-wilayah tersebut menjadi prioritas pemantauan karena pada 2023 mengalami kekeringan," kata Aji Piluroso.
Meski demikian ia tidak menutup kemungkinan wilayah lain, termasuk daerah yang sebelumnya tidak terdampak seperti wilayah atas atau utara Banjarnegara, juga berpotensi mengalami kekeringan jika kondisi cuaca berkembang lebih ekstrem.
Selain kekeringan, kata dia, BPBD juga mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), meskipun selama ini kejadian karhutla di Banjarnegara relatif minim.
"Potensi tetap ada, namun relatif kecil karena kondisi wilayah kita cenderung basah dan tutupan hutan tidak terlalu luas," katanya.
Lebih lanjut Aji mengatakan dalam menghadapi musim kemarau 2026, BPBD Banjarnegara terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa guna memantau perkembangan kondisi di lapangan.
Menurut dia, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan respons cepat terhadap potensi krisis air bersih maupun ancaman bencana lainnya.
"Kami berharap kondisi kemarau basah yang diprediksi terjadi di Banjarnegara dapat menekan risiko kekeringan, sehingga dampaknya tidak sebesar yang terjadi pada tahun 2023," ucapnya.
Baca juga: Bulog Banyumas salurkan perdana bantuan pangan 2026 untuk Banjarnegara
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
