Logo Header Antaranews Jateng

Ada 46 lokasi rawan macet saat mudik di Jateng

Minggu, 1 Maret 2026 17:55 WIB
Image Print
Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jateng-DIY Moch Iqbal Tamher. ANTARA/Zuhdiar Laeis

Semarang, Jateng (ANTARA) - Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta memetakan setidaknya 46 titik rawan kemacetan pada arus mudik dan balik Lebaran 2026.

Kepala BBPJN Jateng-DIY Moch Iqbal Tamher, di Semarang, Jateng, Minggu, mengatakan bahwa titik rawan kemacetan tersebar di jalur pantura, jalur tengah, hingga jalur selatan.

Menurut dia, mayoritas titik rawan kemacetan tersebut berada di kawasan pasar, perlintasan sebidang kereta api, simpang padat, serta akses keluar-masuk tol.

"Seluruh titik sudah kami petakan. Personel dan peralatan kami siapkan agar potensi hambatan arus mudik bisa diminimalkan," katanya.

Ia menjelaskan jalur pantura menjadi koridor paling krusial karena menampung kendaraan jarak jauh dari arah barat ke timur, termasuk kendaraan logistik dan bus antarkota.

Selain kemacetan, BBPJN juga mengidentifikasi 23 titik rawan bencana, terdiri atas 14 titik rawan banjir dan 9 titik rawan longsor.

Untuk titik rawan banjir, sejumlah ruas yang menjadi perhatian antara lain Jalan Kaligawe Semarang, ruas Sayung di perbatasan Kota Semarang - Demak, Jalan Walisongo, serta ruas Kendal di jalur Pantura.

Potensi genangan juga teridentifikasi di ruas Pemuda Brebes, Prupuk - Batas Kabupaten Tegal/Banyumas, Sidareja - Simpang 3 Jeruklegi, Sampang - Buntu, Klampok - Banjarnegara, Lingkar Selatan Klaten, hingga Palur - Sragen.

Ruas-ruas tersebut umumnya berada di dataran rendah atau wilayah dengan riwayat genangan akibat hujan intensitas tinggi maupun rob.

Kemudian, titik rawan longsor banyak berada di jalur selatan dan wilayah perbukitan, di antaranya batas Jawa Barat - Karangpucung–Wangon, Ajibarang - Wangon, Wangon - batas Banyumas/Cilacap, Patikraja - Rawalo, hingga batas Kota Banjarnegara - Wonosobo.

Karakteristik tanah labil dan kontur perbukitan menjadi faktor utama potensi longsor di wilayah tersebut, terutama saat curah hujan tinggi.

Untuk mengantisipasi ketidaklancaran, BBPJN juga menyiagakan empat Unit Pelaksanaan Peralatan (UPP) Disaster Relief Unit (DRU) di Pekalongan, Karangjati, Buntu, dan Yogyakarta.

"Kami juga siapkan unit peralatan tanggap darurat di empat titik. Jadi kalau terjadi gangguan besar seperti banjir atau longsor, alat sudah siap digerakkan," katanya.

Peralatan yang tersedia, mencakup excavator, wheel loader, motor grader, dump truck kecil dan tronton, cold milling machine, asphalt finisher, hingga truck trailer.

Selain itu, BBPJN juga menyiapkan material tanggap darurat seperti rangka jembatan darurat bentang 30 meter, kawat bronjong, sand bag, sheet pile, serta tambalan cepat mantap.



Pewarta:
Editor: Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026