
Pemprov Jateng masifkan gerakan pembuatan sumur resapan cegah genangan

Kudus (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengajak semua pihak melakukan upaya mitigasi genangan air melalui gerakan pembuatan sumur resapan sebagai solusi sederhana, murah, namun berdampak luas bagi lingkungan sekaligus menjaga ketahanan infrastruktur jalan di Jateng.
"Langkah tersebut sebenarnya memiliki dasar hukum melalui peraturan daerah dan peraturan gubernur yang mengatur kawasan permukiman. Namun, pengawasan pelaksanaannya dinilai masih belum optimal. Karena itu, pemerintah kini memperkuat pengawasan, termasuk melalui mekanisme perizinan bangunan," kata Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen saat meninjau pembangunan sumur resapan di Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Rabu.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PT Sukun Wartono Indonesia.
Nantinya, kata Taj Yasin, penerbitan izin mendirikan bangunan (IMB) diharapkan mensyaratkan keberadaan sumur resapan atau biopori. Ketentuan ini merupakan amanat regulasi yang sudah berlaku, namun kini akan ditegakkan lebih konsisten agar manfaatnya dirasakan secara luas.
Pemerintah juga mendorong keterlibatan berbagai pihak, termasuk perusahaan melalui CSR, mengingat pembuatan sumur resapan relatif tidak membutuhkan biaya besar. Selain itu, pemanfaatan material bekas seperti drum atau sisa aspal juga dinilai dapat menjadi alternatif sarana sumur resapan yang mudah diterapkan masyarakat.
Ia optimistis cara tersebut mampu mengurangi genangan air yang selama ini menjadi salah satu penyebab utama kerusakan jalan. Dengan berkurangnya genangan, umur jalan di berbagai wilayah, baik jalan desa, kabupaten, maupun provinsi diharapkan menjadi lebih panjang, terutama saat musim hujan.
"Gerakan pembuatan sumur resapan juga akan diiringi edukasi kepada masyarakat melalui pemerintah desa, kecamatan, hingga kabupaten. Sosialisasi dianggap penting agar masyarakat memahami manfaat serta cara pembuatan sumur resapan yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat," ujarnya.
Selain itu, kata dia, pemerintah juga menginstruksikan dinas terkait untuk bekerja sama dengan perguruan tinggi guna memetakan wilayah-wilayah prioritas pembangunan sumur resapan di Jateng. Pemetaan tersebut mencakup kebutuhan kedalaman dan jenis sumur resapan yang tepat, mulai dari biopori sederhana hingga konstruksi dengan spesifikasi tertentu.
Dukungan dari sektor swasta juga mulai terlihat. PT Sukun Wartono tercatat membangun sumur resapan di sejumlah titik, termasuk di area lapangan yang sebelumnya rawan genangan. Dengan adanya sumur resapan tersebut, air hujan dapat langsung meresap ke tanah sehingga tidak menggenang dan berpotensi merusak fasilitas sekitar.
Pemerintah berharap gerakan ini dapat terus diperluas sebagai upaya kolektif menjaga lingkungan, mengurangi banjir lokal, serta melindungi infrastruktur jalan dari kerusakan akibat genangan air.
Sementara itu, Direktur Utama PT Sukun Wartono Indonesia Yusuf Wartono menegaskan keterlibatan perusahaan dalam pembangunan sumur resapan merupakan bentuk kepedulian terhadap isu lingkungan.
"Kami berharap ada kolaborasi positif antara perusahaan dengan pemerintah di semua tingkatan untuk menjaga lingkungan hidup," ujarnya.
Sumur resapan yang dibangun memiliki spesifikasi sederhana, dengan kedalaman sekitar 1,5 meter menggunakan dua bis beton berdiameter 60 sentimeter. Sedangkan biayanya kurang dari Rp1 juta per sumur.
Ia berharap sumur resapan tersebut menjadi salah satu solusi mengatasi genangan, serta nantinya juga bermanfaat untuk masyarakat luas.
Baca juga: Pemkot Semarang targetkan buat 5.000 sumur resapan cegah banjir
Pewarta: Akhmad Nazaruddin
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
