Logo Header Antaranews Jateng

Bupati Banyumas: Pengembangan kelapa genjah memperkuat ekspor gula semut

Jumat, 30 Januari 2026 15:19 WIB
Image Print
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono (kanan) didampingi Managing Director PT IMC Mario Ngensowidjaja (tengah) dan Implementation Manager develoPPP Coconut Sugar GIZ GmbH Dominik Schwab (kiri) memberi keterangan pers di Pendopo Si Panji, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (30/1/2026). ANTARA/Sumarwoto

Purwokerto (ANTARA) - Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mendorong pengembangan kelapa genjah sebagai strategi memperkuat posisi Banyumas Raya, khususnya Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sebagai sentra ekspor gula semut dunia sekaligus meningkatkan kesejahteraan penderes atau penyadap nira di wilayah pedesaan.

Ditemui usai acara “Kick Off Implementasi Proyek DeveloPPP Pemberdayaan Petani Bersama IMC Melalui Budidaya Kelapa Genjah di Kabupaten Banyumas” yang digelar Pendopo Si Panji, Purwokerto, Banyumas, Jumat, Bupati mengatakan, kebutuhan gula semut global saat ini sangat besar dan sekitar 90 persen pasokan dunia berasal dari Indonesia, dengan sekitar 80 persen di antaranya disumbang oleh wilayah Banyumas Raya yang meliputi Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara.

“Ini peluang yang luar biasa. Karena itu saya konsentrasi agar Banyumas ke depan menjadi pusat ekspor gula semut seperti gula kelapa,” katanya menanggapi program develoPPP yang terbentuk atas kerja sama Kementerian Pertanian Republik Indonesia serta Kementerian Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ) Republik Federal Jerman melalui program pendanaan develoPPP Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH dan PT Integral Mulia Cipta (IMC) tersebut.

Menurut dia, pengembangan kelapa genjah memiliki dampak ekonomi dan sosial yang signifikan karena mampu meningkatkan produktivitas penderes sekaligus menekan risiko kecelakaan kerja.

Selama ini, kata dia, penderes harus memanjat pohon kelapa dalam dengan ketinggian lebih dari 15 meter.

“Setiap bulan selalu ada penderes yang jatuh dari pohon kelapa. Risikonya bisa patah tulang, lumpuh, bahkan meninggal dunia. Dengan kelapa genjah yang tingginya hanya 2-3 meter, risikonya jauh berkurang,” katanya.

Ia mengatakan, penderes yang sebelumnya hanya mampu menyadap sekitar 25 pohon kelapa per hari namun dengan kelapa genjah dapat menyadap hingga 100 pohon dalam waktu kerja yang relatif sama.

Dengan demikian, kata dia, produktivitas penderes nira kelapa bisa naik sampai empat kali lipat.

“Kalaupun volume nira kelapa genjah hanya sekitar 75 persen dibanding kelapa dalam, pendapatan penderes tetap bisa meningkat hingga tiga kali lipat,” katanya.

Dari sisi kualitas, kata dia, gula semut yang dihasilkan dari kelapa genjah tidak memiliki perbedaan rasa dengan kelapa dalam sehingga tetap memenuhi standar pasar ekspor.

Bupati mengatakan, Pemerintah Kabupaten Banyumas telah menyiapkan sekitar 625 hektare lahan untuk pengembangan kelapa genjah dengan kebutuhan sekitar 125 bibit per hektare.

Sementara itu, Managing Director PT IMC Mario Ngensowidjaja menilai revitalisasi industri gula kelapa di Banyumas menjadi langkah strategis untuk mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus menjaga keberlanjutan komoditas unggulan Indonesia di pasar global.

Menurut dia, industri gula kelapa nasional menghadapi tantangan mendasar, mulai dari belum adanya standarisasi produksi, keterbatasan mekanisasi, hingga menurunnya jumlah petani akibat faktor usia dan tingginya risiko kecelakaan kerja.

“Petani makin sedikit, pohon makin tinggi, petani makin tua, dan kecelakaan kerja sangat tinggi. Ini persoalan serius,” katanya.

Ia menegaskan, Indonesia saat ini merupakan pemasok utama gula kelapa dunia dengan kontribusi sekitar 80–90 persen pasokan global, sehingga keberlanjutan komoditas tersebut sangat penting bagi perekonomian nasional.

Implementation Manager develoPPP Coconut Sugar GIZ GmbH Dominik Schwab mengatakan, keterlibatan GIZ dalam proyek tersebut sejalan dengan dua visi utama kerja sama Jerman dengan Indonesia, yakni upaya bersama mengurangi dampak perubahan iklim dan penguatan kemitraan ekonomi kedua negara.

“Kami ingin meningkatkan rantai pasok gula kelapa dari Indonesia, khususnya Banyumas, agar lebih berkelanjutan bagi lingkungan dan juga berkelanjutan bagi petani kecil,” katanya.

Menurut dia, proyek tersebut merupakan bagian dari program develoPPP, yakni skema kemitraan publik dan swasta (public private partnership/PPP) antara Pemerintah Jerman dan perusahaan swasta.

Dalam proyek ini, GIZ bekerja sama dengan IMC yang telah lama beroperasi dan mengekspor gula kelapa dari Banyumas ke pasar Eropa, khususnya Jerman.

Ia mengatakan, intervensi konkret dalam proyek tersebut di antaranya perbaikan praktik budidaya kelapa untuk gula, termasuk peralihan dari kelapa dalam ke kelapa genjah, serta penerapan praktik pertanian yang mampu meningkatkan produktivitas dengan tetap menekan dampak lingkungan.

“Kami ingin meningkatkan rantai pasok gula kelapa dari Banyumas agar lebih berkelanjutan bagi lingkungan dan juga meningkatkan kesejahteraan petani kecil,” katanya.



Baca juga: Wakil Ketua DPRD Jateng: Gula Semut Banyumas jadi tulang punggung ekspor



Pewarta :
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026