Logo Header Antaranews Jateng

"Wiwitan Tandur Pari", sinergi BI Jateng tangani sawah terdampak banjir Demak

Kamis, 28 Agustus 2025 11:29 WIB
Image Print
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah Rahmat Dwisaputra saat mencoba alat pertanian, saat kegiatan "Wiwitan Tandur Pari", di Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, Rabu (27/8/2025). (ANTARA/HO-BI Jateng)

Semarang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jateng, Pemerintah Kabupaten Demak, dan jajaran terkait bersinergi lewat "Wiwitan Tandur Pari" sebagai tindak lanjut penanganan sawah terdampak banjir seluas 512 hektare di Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, Rabu.

Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen menekankan pentingnya kontribusi Kabupaten Demak dalam mendukung produksi padi Jateng dan nasional.

"Pada tahun 2024, Kabupaten Demak memberikan kontribusi sebesar 6,70 persen terhadap produksi padi Jateng," katanya.

Untuk periode Januari–Juli 2025, kontribusi tersebut meningkat menjadi 8,89 persen terhadap produksi Jateng atau setara 1,41 persen dari produksi nasional.

Gus Yasin juga mendorong peningkatan koordinasi lintas sektor dengan melibatkan BBWS, dinas yang membidangi pekerjaan umum, Badan Pusat Statistik, serta dukungan seluruh pemangku kepentingan lainnya agar upaya pemulihan lahan sawah terdampak banjir semakin efektif dan berkelanjutan.

"Kegiatan ini menandai dimulainya kembali proses tanam padi pada lahan yang sebelumnya tergenang, sekaligus menegaskan pentingnya sinergi antarinstansi dalam menjaga ketahanan pangan dan stabilitas harga di Jawa Tengah yang merupakan salah satu lumbung pangan nasional," katanya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Jateng Rahmat Dwisaputra menegaskan bahwa beras masuk dalam lima besar penyumbang inflasi di Jateng dalam dua bulan terakhir.

BPS mencatat inflasi Jateng pada Juli 2025 sebesar 2,52 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,37 persen (yoy).

Secara bulanan, Jateng mengalami inflasi 0,18 persen (mtm) dengan kelompok pangan memberi andil 0,03 persen. Kenaikan harga pangan, khususnya gabah dan beras, sebagian besar dipicu oleh tekanan pasokan akibat banjir.

Namun, kata dia, berkat kerja sama lintas pihak pada Juli lalu, normalisasi saluran irigasi di Karangtengah, Kabupaten Demak sudah mulai menunjukkan hasil positif, yakni genangan surut, dan petani mulai kembali ke lahan untuk menanam.

Pemulihan sawah terdampak banjir di Kabupaten Demak terlaksana melalui sinergi berbagai instansi.

Ia mengatakan bahwa BI Jateng memberikan bantuan berupa fasilitas sarana dan prasarana pertanian serta dukungan biaya operasional alat berat untuk memperlancar penanganan di lapangan.

Dampak dari upaya pemulihan yaitu lahan bekas banjir seluas 231,90 ha sudah kembali ditanami padi, sementara proses persemaian tengah berlangsung untuk rencana tanam pada musim tanam I di area seluas 223,11 ha.

Ke depan, luas tanam akan terus bertambah seiring dengan surutnya genangan, sehingga diharapkan produktivitas padi Kabupaten Demak dapat segera pulih secara bertahap.

"Upaya pemulihan ini tidak hanya menjaga ketersediaan beras di daerah sentra produksi, tetapi juga menjadi penopang stabilitas harga pangan di Jateng," katanya.



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026