Pratama sebut perlu adopsi teknologi pendukung WFH di tengah wabah corona

id covid 19,penanganan corona,virus corona,corona,2019 ncov,novel coronavirus 2019

Pratama sebut perlu adopsi teknologi pendukung WFH di tengah wabah corona

Pakar keamanan siber dari CISSReC Dr. Pratama Persadha. ANTARA/HO-CISSReC

Semarang (ANTARA) - Pakar keamanan siber dari CISSReC Doktor Pratama Persadha memandang perlu pemerintah dan swasta untuk mengadopsi teknologi yang mendukung work from home (WFH) menyusul penetapan darurat bencana nasional terkait dengan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).

"Agar produktivitas tidak berkurang drastis, pelaku usaha mengakali dengan metode WFH. Dengan demikian, masih tetap bisa melakukan pekerjaan dari rumah atau work from home," kata Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi CISSReC Pratama Persadha melalui pesan WA-nya kepada ANTARA di Semarang, Senin.

Pratama yang juga dosen Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) mengemukakan hal itu terkait dengan peliburan sekolah/perguruan tinggi dan tempat kerja selama dua pekan oleh pemerintah sehubungan dengan penyebaran COVID-19 yang cepat.

Baca juga: Pakar: Pemerintah baru blokir domain situs togel

Kendati demikian, lanjut dia, ada faktor keamanan dan kemudahan yang harus diperhatikan sehingga produktivitas tetap terjaga, yakni pertama yang harus dilakukan perusahaan dan pemerintah adalah edukasi keamanan siber paling mendasar untuk para pegawai.

Pratama mencontohkan pengamanan surat elektronik (surel) atau e-mail, akun medsos, dan wireless fidelity (wifi) di rumah. Khusus wifi, perlu ada imbauan agar mereka tidak memakai wifi publik saat mengakses sistem kantor.

Selain itu, harus ada pengecekan keamanan pada device atau perangkat yang dipakai para pegawai untuk WFH. Minimal ada antivirus dan virtual private network (VPN) sebagai tambahan keamanan.

Pada tingkat lebih lanjut, kata Pratama, pegawai juga harus dilengkapi oleh sistem yang lengkap dengan enkripsi sehingga data terlindungi.

Ia menegaskan bahwa keamanan adalah hal yang paling utama di samping kemudahan pemakaian. Oleh karena itu, perlu dilakukan audit password dan update operating system (OS) pada perangkat yang dipakai.

"Hal ini melengkapi pemakaian VPN dan antivirus untuk keamanan," kata pria asal Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah ini.

Dalam kondisi sekarang ini, menurut Pratama, merupakan momentum tepat untuk melatih negara dan swasta di Tanah Air menggunakan teknologi cloud secara luas. Hal ini mengingat WFH sangat membutuhkan pemakaian cloud.

Untuk skala menengah kecil, kata dia, penggunaan cloud yang gratis dan basic sudah cukup. Ada dropbox, mycloud, dan berbagai cloud lokal di Tanah Air.

"Idealnya memakai enterprise mobility management (EMM). Namun, memang perlu proses. Industri besar biasanya memakai teknologi EMM ini. Penggunaan EMM seharusnya lebih memudahkan dan lebih aman," kata Pratama menerangkan.

Dikatakan pula bahwa pengamanan perangkat dan jaringan pegawai juga harus diikuti oleh update sistem dan pengamanan jaringan kantor. Selain itu, pegawai kunci, seperti admin dan superadmin, juga harus terus mendapatkan perhatian dan prioritas keamanan sehingga menutup celah terjadinya data breach (pelanggaran data).

Baca juga: Keamanan siber dan privasi data harus jadi prioritas negara
Baca juga: Pakar sebut Indonesia menjadi target peretasan di dunia
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar