Meningkat signifikan, produksi garam Jateng tembus 1,043 juta ton

id kepala DKP Jateng,fendiawan tiskiantoro

Meningkat signifikan, produksi garam Jateng tembus 1,043 juta ton

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah Fendiawan Tiskiantoro. ANTARA/Wisnu Adhi

Semarang (ANTARA) - Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah mencatat produksi garam pada 2019 mengalami peningkatan signifikan dibandingkan 2018.

"Produksi garam terus meningkat tiap tahunnya. Tahun ini, total produksi garam Jateng sudah mencapai 1,043 juta ton, sedangkan 2018 tercatat 751.463 ton," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa  Tengah Fendiawan Tiskiantoro di Semarang, Rabu.

Menurut dia, kenaikan produksi garam di Jateng itu karena beberapa faktor, dengan faktor utamanya adalah musim kemarau yang lebih lama membuat produksi garam melimpah.

Baca juga: Produsen garam konsumsi keluhkan rendahnya harga jual garam

Ia menyebutkan beberapa daerah yang menjadi sentra petani garam terdapat di Kabupaten Rembang, Brebes, Cilacap, Demak, Batang, Kebumen, Purworejo, Jepara, dan Pati dengan total sebanyak 14.836 petani garam yang tersebar di beberapa wilayah di Jawa Tengah.

"Petani garam terbanyak berada di Kabupaten Pati, dengan total 8.178 orang, disusul Rembang dengan 4.009 orang, dan Demak 1.354 orang," ujarnya.

Pemprov Jateng, lanjut dia, terus memfasilitasi dan membantu petani garam agar terus bisa berproduksi serta meningkatkan kualitas dan kuantitas produksinya.

Bantuan berupa sarana dan prasarana telah dilakukan di sejumlah kelompok petani garam yang ada di Jateng.

"Kami terus melakukan pembinaan dan juga fasilitasi agar para petani garam semakin produktif dan memiliki kualitas bagus," katanya.

Terkait dengan anjloknya harga garam akhir-akhir ini, Fendiawan menerangkan bahwa Pemprov Jateng melakukan upaya untuk melindungi harga garam tetap stabil di pasaran.

Ia mengungkapkan harga garam tahun ini memang anjlok di kisaran Rp300-400 per kilogram, padahal di 2016 lalu, harga garam bisa mencapai Rp1.000 per kilogram.

"Kami terus berupaya agar harga tetap stabil, dengan membangun gudang garam di sentra-sentra penghasil garam, pembangunan tunnel dan juga geoisolator. Dengan adanya bantuan itu, maka stabilitas harga dapat dijamin," ujarnya.

Saat panen garam tiba, namun harganya anjlok, maka pihaknya akan menyimpan terlebih dulu di gudang-gudang yang telah disediakan.

Selain itu, pencarian industri yang mau menyerap produksi garam petani juga terus dilakukannya.

"Kami juga berupaya meningkatkan kualitas garam petani dengan memberikan bantuan geoisolator dan rumah tunnel. Pemberian bantuan itu agar garam Jateng memiliki kualitas bagus sehingga harganya tinggi di pasaran," katanya.

Baca juga: Produsen garam di Pati pangkas produksi
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar