Kebiasaan milineal "kutu loncat" rugikan diri sendiri

id kebiasaan milineal kutu loncat, rudi diri

Kebiasaan milineal "kutu loncat" rugikan diri sendiri

Pencari kerja antre untuk wawancara pada bursa kerja JobStreet.com Indonesia di Gedung Smesco, Jakarta, Jumat (10/1). Bursa kerja tersebut berlangsung hingga 11 Januari. (ANTARA FOTO/Dhoni Setiawan)

Jakarta (Antaranews Jateng) - Country Manager JobStreet.com, Farida Lim, melihat bahwa kebiasaan milenial cenderung bergonta-ganti pekerjaan atau disebut "kutu loncat" dapat merugikan diri mereka sendiri.

"Tren kutu loncat ini harus mendapat perhatian karena tidak akan menambah value yang optimal," ujar Farida dalam temu media di Jakarta, Kamis.

Value yang dimaksud Farida adalah mereka tidak benar-benar mendapat pengalaman kerja. Pasalnya, menurut dia, generasi milenial cenderung berganti pekerjaan setiap tiga bulan sekali.

"Karyawan yang berpindah kerja terlalu cepat tidak memiliki skill yang mendalam dan tidak belajar hal yang fundamental," kata dia.

Meski demikian, menurut Farida, generasi milenial memiliki nilai jual tinggi. "Mereka sangat cerdas dan kreatif karena telah terpapar teknologi," ujar dia.

Oleh sebab itu, perusahaan kini berusaha mengikuti keinginan para milenial agar mereka dapat bergabung untuk menyumbang ide dan berkontribusi kepada perusahaan.

Menurut Farida milenial menyukai jam kerja yang fleksibel, dan bahkan ruang kerja yang menarik mengusung konsep coworking space seperti kantor Google.

"Hal seperti itu merupakan tantangan perusahaan dalam rekrutmen. Nampaknya akan ekstra effort mendapat karyawan, 80-90 persen sudah mulai transformasi ke market milenial," ujar Farida. (Editor : Fitri Supratiwi).
 
Pewarta :
Editor: Totok Marwoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar