
UIN Walisongo gelar Lokakarya Ramadhan 1447 H, bahas kepastian jadwal imsakiyah

Semarang (ANTARA) - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) menggelar Lokakarya Ramadhan 1447 Hijriah, di Semarang, Jawa Tengah, Selasa.
Kegiatan ini berlangsung di Ruang Teater Gedung Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo Semarang. Lokakarya tersebut menghadirkan para pakar ilmu falak dari kalangan akademisi dan ormas Islam, di antaranya Drs. KH Slamet Hambali, M.Si (Ahli Falak dan Pengurus Lajnah Falakiyah PBNU), Prof. Dr. H. Ahmad Izzuddin, M.Ag (Guru Besar Ilmu Falak UIN Walisongo), Dr. Ahmad Syifaul Anam, M.H. (Kepala Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo), serta Dr. H. Basthoni, M.H. dari Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Tengah.
Ketua LP2M UIN Walisongo Prof. Dr. Akhmad Arif Junaidi, M.Ag, dalam sambutannya menyampaikan forum ini menjadi ruang ilmiah untuk menguji dan memastikan akurasi perhitungan waktu-waktu ibadah, khususnya terkait imsakiyah Ramadhan 1447 H.
“Forum ini dilaksanakan agar memperoleh kepastian. Hitungan yang sudah dibuat akan diuji bersama di forum ini, sehingga menghasilkan produk yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan syar’i,” katanya.
Ia menambahkan lokakarya ini diikuti oleh pengurus takmir masjid di sekitar kampus, pengurus organisasi kemasyarakatan Islam, serta mahasiswa. Hasil utama dari kegiatan ini nantinya adalah jadwal imsakiyah Ramadhan 1447 H yang akan digunakan sebagai rujukan bersama.
Sementara itu, Rektor UIN Walisongo Semarang Prof. Dr. Nizar, M.Ag menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber dan peserta yang terlibat.
Menurutnya, lokakarya Ramadhan merupakan agenda rutin tahunan UIN Walisongo yang memiliki peran strategis bagi umat Islam.
“Ritual menjelang Ramadhan berupa lokakarya ini kita lakukan setiap tahun. Hal ini penting untuk memastikan update terakhir jadwal imsakiyah, jangan sampai keliru karena dampaknya menyangkut syar’i,” katanya.
Ia menegaskan penentuan waktu, khususnya waktu Subuh perlu dilakukan dengan sangat cermat agar dapat menjadi pedoman yang benar bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan.
“Paling tidak kegiatan ini meminimalisir kesalahan dan dapat dijadikan dasar bersama bagi masyarakat,” lanjutnya.
Rektor juga menyampaikan setelah lokakarya ini UIN Walisongo akan menyusun jadwal imsakiyah khusus untuk masyarakat sekitar kampus guna mewujudkan keseragaman waktu ibadah. Menurutnya, kegiatan ini mencerminkan kolaborasi antara akademisi, masyarakat, organisasi keagamaan, dan mahasiswa.
Lokakarya kemudian dilanjutkan dengan sesi panel diskusi, di mana para narasumber memaparkan pandangan dan analisis mereka terkait imsakiyah Ramadhan, penentuan awal Ramadhan, serta akhir Ramadhan 1447 Hijriah.
Dalam diskusi tersebut juga mengemuka perbedaan pendekatan penanggalan hijriah, termasuk sikap Muhammadiyah yang tetap menggunakan kalender hijriah global tunggal serta komitmen sebagian ormas untuk setia pada metode yang telah digunakan sejak lama. Perbedaan tersebut dibahas secara ilmiah dalam semangat mencari titik temu demi kemaslahatan umat.
Pewarta : Aris Wasita
Editor:
Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
