Jateng kirim banyak pekerja magang ke Jepang

id pelerja magang Jateng

Jateng kirim banyak pekerja magang ke Jepang

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bertemu sengan CEO International Manpower Development Organization Japan (IM Japan) Kyoei Yanagisawa di Tokyo, Rabu (7/11). (Foto: Dokumentasi Humas Pemprov Jateng)

Semarang (Antaranews Jateng) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bakal mengirim lebih banyak tenaga muda untuk mengikuti program magang di perusahaan ternama di Jepang untuk pembenahan etos serta keterampilan kerja agar mampu menjadi modal untuk berwirausaha.
 
"Program magang ini sangat disenangi karena bisa menimba ilmu dan pengalaman langsung di Jepang sehingga mereka bisa menjadi tenaga kerja terlatih," kata Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat melakukan pertemuan dengan CEO International Manpower Development Organization Japan (IM Japan) Kyoei Yanagisawa di Tokyo, Rabu.

IM Japan merupakan perusahaan yang menjalin kemitraan pekerja magang dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sejak 1993.

Untuk bisa mengirim peserta magang ke Jepang, kata Ganjar, Pemprov Jateng tahun ini melaksanakan dua kali seleksi.

Seleksi pertama Mei 2018 di Kota Semarang yang diikuti 118 anak, sedangkan seleksi tahap kedua pada September 2018 melonjak jadi 1.613 anak.

Ganjar mengatakan bahwa dari 15 negara peserta program magang, Indonesia adalah negara dengan peserta terbanyak dibanding negara lain.

Sejak 1993 tercatat 41.377 orang yang separuhnya dari Jawa Tengah, sekitar 21 ribu, sedangkan Thailand hanya 4.557 orang dan Vietnam 5.663 orang.

"Meskipun, peserta harus melewati tes yang cukup susah. Yang lolos itu cuma 20-30 persen. Ini jadi catatan buat kami, barangkali perlu ditingkatkan persiapannya, terutama fisik dan bahasa," ujar Ganjar.

 Melihat keseriusan Pemprov Jateng dalam program magang tersebut, CEO IM Japan Kyoei Yanagisawa bakal berkunjung langsung ke Provinsi Jawa Tengah, apalagi beberapa perusahaan Jepang telah berdiri di Jateng seperti Kubota.

Untuk jajaran manajemen dan pekerja di Kubota rata-rata diisi alumni IM Japan dan produknya telah menembus pasar ekspor dunia dan hal itu tidak terlepas dari keterampilan yang diperoleh ketika jadi peserta magang di Jepang.
 
"Tes memang ketat karena kondisi yang dibutuhkan di sini berbagai macam, tapi kami berharap setelah selesai magang mereka punya 'skill' untuk membantu pengembangan ekonomi indonesia," katanya.
 
Ada dua program magang kerja yang dibuka IM Japan yakni tiga dan lima tahun, untuk program tiga tahun peserta akan memperoleh uang saku 500 ribu yen atau Rp64.965.143, dan untuk program lima tahun akan memperoleh 1 juta yen atau Rp129.930.287.

"Dan jika ditambah gaji, ketika selesai magang peserta bisa bawa pulang uang antara Rp300 juta hingga Rp500 juta rupiah. Uang ini bisa jadi modal sebagai wirausaha, kalau mau bekerja akan ditempatkan di perusahaan Jepang di Indonesia," ujarnya.

Selain ke IM Japan, Ganjar beserta rombongan juga melakukan kunjungan ke pabrik Heiwa Kogyo, distrik Kehinjima Tokyo dan bertemu dengan peserta magang kerja dari Jawa Tengah.

Tri Wibowo salah satu pekerja magang tersebut mengaku yang paling dirasakan setelah bekerja di Jepang adalah etos kerja serta kemandirian.

"Di sini selain bekerja juga belajar budaya dan etos kerja keras dan mandiri. Kalau mau makan, ya masak sendiri. Libur dua hari dalam sepekan," kata Tri.

Meski beretos kerja tinggi dan mandiri, Tri tetap memperhatikan keluarganya di Kabupaten Sukoharjo dengan mengirimkan uang sekitar Rp5 juta per bulan.

Bersama rekannya, Ali Mahfud dari Kabupaten Grobogan dan Andri Setiono dari Kabupaten Cilacap, setiap bulan dirinya menerima gaji sebesar 90.000 Yen atau setara Rp11.693.725.

Di pabrik pewarnaan plastik yang telah berdiri sejak 1946 itu, program magang kerja Indonesia telah berlangsung sejak 1995 dan saat ini peserta magang dari Indonesia ada 15 orang, dari Jateng terdapat lima orang dan rencananya pada Maret 2019 datang lagi empat orang.

"Dulu saya bekerja di The Park Mall Solo, setelah mengikuti program pelatihan dan peluang bekerja di Jepang oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jateng, akhirnya saya memutuskan merantau untuk memperbaiki perekonomian keluarga," katanya.(LHP)
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar