Logo Header Antaranews Jateng

Asosiasi Perusahaan Minuman Dalam Kemasan tekankan penguatan berkelanjutan

Sabtu, 6 Juni 2026 21:38 WIB
Image Print
Asosiasi Perusahaan Minuman Dalam Kemasan (ASRIM) menekankan perlunya penguatan berkelanjutan pada industri makanan dan minuman. ANTARA/HO-ASRIM

Solo (ANTARA) - Asosiasi Perusahaan Minuman Dalam Kemasan (ASRIM) menekankan perlunya penguatan berkelanjutan pada industri makanan dan minuman.

Melalui keterangan yang diterima di Solo, Jawa Tengah, Sabtu, Ketua Umum ASRIM Triyono Prijosoesilo menilai meskipun industri makanan dan minuman masih mencatat pertumbuhan positif sepanjang 2025 sebesar 6,38 persen, pertumbuhan tersebut masih berada di bawah level pra-pandemi yang sebelumnya dapat mencapai kisaran 7-9 persen.

Oleh karena itu, menurut dia saat ini kondisi industri sektor tersebut belum sepenuhnya pulih ke kondisi ideal.

Ia juga menyoroti pendapat sejumlah ekonom terkait pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2026 masih banyak ditopang oleh belanja pemerintah dan faktor musiman Ramadan-Lebaran, sedangkan pemulihan daya beli masyarakat belum sepenuhnya kuat.

Tantangan operasional pelaku usaha kian diperparah oleh kenaikan biaya produksi akibat tingginya ketergantungan pada impor bahan baku maupun kemasan di tengah.

Pihaknya mencatat berdasarkan data inflasi per April 2026, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 3,06 persen (year-on-year). Angka ini berada di atas tingkat inflasi umum nasional sebesar 2,42 persen.

Terkait hal itu, ASRIM mengapresiasi upaya penguatan sektor domestik dan berharap implementasi kebijakan ke depan dapat berjalan secara adaptif tanpa memberikan beban tambahan yang memberatkan pelaku usaha. Menurut dia, hal ini penting agar industri tetap mampu mempertahankan investasi dan penyerapan tenaga kerja.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi jangka panjang demi menjaga resiliensi industri minuman kemasan di Indonesia.

“Industri minuman kemasan melihat peluang pertumbuhan tetap terbuka, namun membutuhkan penguatan berkelanjutan agar lebih resilient ke depan. Kami mendorong kebijakan yang adaptif dan konsisten, termasuk penguatan bahan baku domestik, kepastian regulasi, serta keseimbangan antara daya beli masyarakat dan keberlanjutan usaha,” katanya.

Pihaknya juga mengedepankan dialog konstruktif bersama pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk mengevaluasi berbagai kebijakan industri, termasuk cukai dan bea masuk, demi menjaga stabilitas industri, keberlanjutan investasi, dan perlindungan tenaga kerja nasional.

Sementara itu, merespons kondisi tersebut, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian menegaskan komitmennya untuk terus menjaga iklim usaha manufaktur tetap kondusif melalui langkah-langkah strategis.

Perwakilan Kementerian Perindustrian Merrijantij Punguan Pintaria menyampaikan bentuk dukungan ekosistem industri dari regulator.

“Sektor industri pengolahan berkontribusi sekitar 19 persen terhadap PDB nasional pada Triwulan I-2026, dengan industri makanan-minuman sebagai subsektor utama penopang pertumbuhan manufaktur nasional. Kami memahami bahwa tekanan ekonomi global juga memberikan tantangan kepada industri makanan dan minuman untuk terus tumbuh,” katanya.

Oleh karena itu, dikatakannya, pemerintah terus berkomitmen mendorong penguatan struktur industri, pengembangan hilirisasi, serta peningkatan daya siang sektor mamin.

“Kami juga akan terus memperkuat sinergi bersama pelaku usaha dalam menjaga keberlanjutan industri dan penciptaan lapangan kerja di tengah dinamika ekonomi global,” katanya.

Data Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia mencatat berdasarkan data BPS pada triwulan I-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year-on-year). Industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar terhadap PDB nasional dengan porsi 19,07 persen, di mana subsektor makanan dan minuman menyumbang sekitar 7,31 persen terhadap PDB nasional yang menegaskan perannya sebagai motor utama sektor manufaktur.

Meskipun menunjukkan ketahanan secara makro, kualitas pertumbuhan industri di lapangan masih menghadapi tantangan riil. Peneliti Senior CORE Indonesia Muhammad Ishak Razak menjelaskan dinamika pasar saat ini memerlukan perhatian khusus terkait daya beli masyarakat.

“Momentum Ramadan, Lebaran, mobilitas masyarakat, serta konsumsi domestik masih menjadi penggerak utama permintaan industri minuman ringan. Namun demikian, pertumbuhan tersebut masih dibayangi oleh sejumlah tantangan struktural, antara lain pelemahan rupiah, kenaikan biaya produksi, tekanan inflasi, serta lemahnya daya beli masyarakat yang menjadi tantangan nyata bagi pelaku industri,” katanya.



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026