20 Grup "Ebeg" Pentas Bersama di Purwokerto

id pentas ebeg

20 Grup "Ebeg" Pentas Bersama di Purwokerto

Sejumlah pemain kuda lumping tampil dalam pentas bersama grup "ebeg" di Lapangan Kelurahan Kedungwuluh, Kecamatan Purwokerto Barat, Banyumas, Kamis siang (31/8/2017) (Foto: ANTARAJATENG.COM/Sumarwoto)

Purwokerto, ANTARA JATENG - Sebanyak 20 grup "ebeg" (kuda lumping) dari Kabupaten Banyumas dan tiga grup dari Cilacap pentas bersama di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, untuk memperingati Hari Ulang Tahun Ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pergelaran "ebeg" yang diinisiasi Komunitas Sedulur Seni dengan mengusung tema "Mendem Merdeka" itu digelar di Lapangan Kelurahan Kedungwuluh, Kecamatan Purwokerto Barat, Banyumas, Kamis siang.

Salah seorang pegiat Komunitas Sedulur Seni, Agus Juwondo mengatakan ide pentas bersama itu disampaikan melalui grup di jejaring sosial "Facebook".

Dalam hal ini, kata dia, pihaknya mengajak komunitas atau grup "ebeg" untuk bersama-sama menggelar kegiatan dalam rangka mempererat tali silaturahmi.

"Bahkan, ide tersebut justru muncul dari komunitas di luar `ebeg` dan ternyata mendapat sambutan positif sehingga kegiatan ini dapat terselenggara," katanya.

Ia mengharapkan kegiatan tersebut ke depan dapat digelar secara rutin.

"Kebetulan sekarang bertepatan dengan momentum HUT Ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia sehingga kami mengusung tema `Mendem Merdeka`. Tema kegiatan berikutnya tergantung pada momentumnya dalam rangka apa," katanya.

Sementara itu, Ketua Bidang Hubungan Antarlembaga Paguyuban Masyarakat Kuda Lumping Indonesia (PMKLI) Bambang Barata Aji mengatakan tema "Mendem Merdeka" mengandung pesan agar dalam mengisi kemerdekaan tidak seenaknya sendiri.

Dalam hal ini, kata "mendem" dalam bahasa Indonesia berarti mendam atau mabuk sehingga orang yang "mendem" sering kali berperilaku seenaknya sendiri.

"Oleh karena itu, komunitas `ebeg` ingin mengingatkan agar jangan seperti itu (seenaknya sendiri) dalam mengisi kemerdekaan," katanya.

Dia mengakui jika dalam pentas bersama itu, banyak grup "ebeg" yang beranggotakan generasi muda, beberapa di antaranya perempuan.

Menurut dia, hal itu menunjukkan bahwa anak-anak muda antusias untuk terlibat dalam kesenian tradisional.

"Ebeg adalah wujud dari kesenian tradisional yang hampir tergerus oleh zaman. Tapi hari ini ditunjukkan bahwa sebetulnya banyak darah muda yang kemudian ingin kembali pada jati diri bangsa Indonesia," katanya.

Ia mengatakan kegiatan tersebut merupakan wujud dari semangat gotong royong sesuai dengan Pancasila karena pesertanya datang dari berbagai kampung dengan biaya sendiri untuk merayakan HUT Ke-72 Kemerdekaan RI.

Menurut dia, para seniman ebeg telah menunjukkan nasionalismenya dengan cara mereka sendiri karena bentuk ekspresi dalam kesenian tradisional merupakan bentuk yang jujur.

"Bentuk yang betul-betul tidak ada kepentingan apa-apa di balik kesenangan dan kerelaannya dalam merayakan kemerdekaan. Jadi ini harus kita hargai, kita apresiasi," kata bakal calon bupati Banyumas itu.

Bambang mengatakan para seniman ebeg terus bertahan untuk melestarikan kesenian tradisional itu meskipun tidak didukung secara substantif oleh negara.

Menurut dia, salah satu upaya agar ebeg tidak punah, kesenian tradisional tersebut perlu diberikan ruang untuk tampil termasuk dalam kegiatan kenegaraan.

Dia mengaku yakin budaya asli Indonesia akan bertahan dari gerusan zaman yang telah memasuki era globalisasi.
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar