
BPBD Pasang Spanduk Larangan Mendekati Kawah Sileri

Banjarnegara, ANTARA JATENG - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, memasang spanduk larangan mendekati Kawah Sileri di Kawasan Wisata Dataran Tinggi Dieng.
"Hari ini, pemasangan spanduk dilakukan di satu titik. Ke depan minimal ada empat titik yang dipasangi spanduk," kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Banjarnegara Arief Rahman di Banjarnegara, Jumat malam.
Ia mengatakan pemasangan spanduk bertuliskan "Dilarang Mendekati Area Kawag Sileri Radius 100 Meter" itu dilakukan sebagai tindak lanjut rekomendasi Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Dieng untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Dalam hal ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui Pos PGA Dieng merekomendasikan radius bahaya Kawah Sileri sejauh 100 meter dari bibir kawah.
Kendati kondisi Gunung Dieng khususnya Kawah Sileri saat ini sudah berada pada level aman, Arief mengatakan wisatawan dan masyarakat sekitar tetap dilarang mendekati Kawah Sileri dalam radius 100 meter dari bibir kawah.
Kawah Sileri yang berlokasi di Kawasan Wisata Dataran Tinggi Dieng, Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Banjarnegara, mengeluarkan letusan freatik pada hari Minggu, 2 Juli 2017, sekitar pukul 12.00 WIB.
Akibat kejadian tersebut, sebanyak 20 wisatawan dan warga yang sedang berada di sekitar Kawah Sileri menjadi korban letusan, lima orang di antaranya mengalami luka yang cukup parah.
Kepala Pos PGA Dieng Surip mengatakan pascaletusan freatik tersebut, PVMBG tetap merekomendasikan radius bahaya Kawah Sileri sejauh 100 meter dari bibir kawah seperti yang telah diberlakukan sejak tanggal 24 Mei 2017.
Ia mengatakan sepanjang sejarah, Kawah Sileri pernah beberapa kali mengeluarkan letusan freatik yang sempat tercatat adalah tahun 1939, 1944, 1964, 1984, 2003, 2009, dan terakhir tahun 2017.
Menurut dia, letusan freatik selama tahun 2017 terjadi pada bulan Maret, April, dan tanggal 2 Juli.
Dari sekian kali kejadian, kata dia, letusan freatik pada tahun 2009 merupakan yang terbesar karena radius sebaran material berupa lumpur mencapai 500 meter sedangkan yang terjadi pada hari Minggu (2/7) hanya sejauh 50 meter.
Kendati demikian, dia mengakui jika pihaknya tidak bisa mengukur tinggi lontaran material saat terjadi letusan freatik pada tahun 2009 karena lokasi Kawah Sileri jauh dari Pos PGA Dieng dan tidak terpasang kamera pengintai.
"Terjadinya letusan freatik tidak diawali dengan gempa-gempa vulkanik. Letusannya berupa lumpur panas, gas, dan air," katanya.
Menurut dia, Kawah Sileri tidak mengeluarkan gas beracun seperti halnya yang dikeluarkan Kawah Timbang.
"Kawah Timbang lebih berbahaya lagi karena mengeluarkan gas beracun, sedangkan Kawah Sileri hanya letusan-letusan freatik," katanya.
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
