Puluhan anak yatim asal Yayasan Mandiri Solo tersebut selain melakukan doa bersama, mereka juga menggelar sejumlah poster, antara lain "Congkroh Bubrah, Rukun Santoso, dan Bersatu Kita Teguh bercerai Kita Lumpuh".

Pimpinan Cabang Yatim Mandiri Solo, Eky Ariani, menjelaskan, puluhan anak yatim berdoa bersama dengan tujuan agar konflik yang terjadi di Keraton Kasunanan Surakartaberakhir damai dan tidak ada perpecahan.

"Kami juga mendoakan agar pihak-pihak yang berkonflik dapat menjalankan lima poin hasil rekonsiliasi dengan baik," katanya.

Menurut dia, pihaknya berharap konflik di keraton tidak ada pihak ketiga, atau ke ranah politik. Karena, keraton merupakan simbol peninggalan cagar budaya yang harus dilindungi kelestariannya.

"Kami berharap konflik di keraton tidak ada ranah politiknya," katanya.

Ia menjelaskan sebagai simbol belasungkawa dan kepedulian pelestarian cagar budaya kasunanan Surakarta, anak yatim saat berdoa bersama dengan mengenakan pita warna hitam yang disempatkan di dada kanannya.

Selain itu, kata dia, aksi anak yatim tersebut merupakan wujud kepedulian terhadap upaya menjaga keutuhan dan pelestarian cagar budaya di Keraton Kasunanan Surakarta.