Purwokerto (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah memperkuat pengelolaan sampah pasar berbasis Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) sebagai upaya mengurangi timbulan sampah sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil olahan sampah.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas Arif Sugiono di Purwokerto, Banyumas, Kamis siang, mengatakan langkah tersebut merupakan arahan Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono untuk mengatasi persoalan sampah, khususnya di pasar tradisional.

“Pengelolaan sampah di Banyumas itu dari hulu, tengah, hingga hilir. Hulu di masyarakat, tengahnya di KSM, sedangkan hilirnya di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Berbasis Lingkungan dan Edukasi (TPST-BLE) yang berada di Wlahar Wetan,” katanya.

Ia mengatakan KSM bersifat terbuka dan dapat melayani wilayah di luar lokasi pembentukannya, termasuk komunitas kecil seperti lembaga pemasyarakatan yang memiliki pengelolaan sampah internal.

Menurut dia, pengelolaan sampah pasar selama ini juga telah melibatkan KSM, di mana Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (DPKUKM) Kabupaten Banyumas membayar layanan pengelolaan sampah kepada kelompok tersebut.

Ke depan, kata dia, pedagang pasar didorong membentuk KSM internal agar dapat melakukan pemilahan hingga pengolahan sampah secara mandiri.

“Harapannya mereka bisa memilah, mengolah sampai menjadi bentuk olahan yang bernilai ekonomi, baik sampah high value, low value, maupun cacahan plastik,” katanya.

Selain itu, kata dia, pemerintah daerah juga berencana menyiapkan dukungan sarana pengolahan, termasuk alat pencacah sampah, sehingga hasil olahan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi kelompok pengelola.

Terkait dengan hal itu, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan DPKUKM untuk memetakan pasar-pasar yang siap membentuk KSM baru.

“Harapan Bupati nanti ada 28 KSM baru di masing-masing pasar (di Banyumas terdapat 28 pasar),” katanya.

Ia mengatakan program tersebut akan diperkuat dengan pembangunan 15 Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) baru yang diharapkan mampu mengurangi beban sampah, terutama dari pasar tradisional.

Menurut dia, sampah pasar menjadi salah satu penyumbang terbesar timbulan sampah karena didominasi sampah organik yang cepat menimbulkan bau apabila tidak segera ditangani.

“Yang paling besar di pasar itu justru organiknya. Itu yang menjadi persoalan utama karena cepat menimbulkan bau,” kata Arif.

Baca juga: Pemkab Banyumas revisi tarif retribusi pasar