Blora, Jateng (ANTARA) - Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mencatat realisasi bantuan benih tanaman pangan dari APBN 2025 didominasi komoditas padi dan jagung dengan volume mencapai 1,1 juta kilogram.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Peternakan (TPHPP) DP4 Blora Rosalia Diah Erawati di Blora, Sabtu, menjelaskan bantuan benih padi dialokasikan untuk lahan seluas 38.520 hektare dengan volume mencapai 963.000 kilogram, dan menjangkau 1.460 kelompok tani.
Sementara itu, benih jagung disalurkan untuk lahan seluas 12.278 hektare dengan total volume 184.170 kilogram kepada 390 kelompok tani.
Selain padi dan jagung, bantuan untuk komoditas tebu juga disalurkan melalui APBN.
Program ini mencakup lahan seluas 1.071 hektare dan menyasar 118 kelompok tani.
Alokasi bantuan untuk tebu mencapai 60.000 mata per hektare atau setara sekitar 6 ton.
Program tersebut direalisasikan pada tahun 2025 dan berlanjut dengan skema yang sama pada tahun 2026.
Erawati menyebutkan benih padi dan jagung yang disalurkan merupakan varietas hibrida dari Kementerian Pertanian melalui Direktorat Serealia, yang diterima langsung oleh kelompok tani.
"Program bantuan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah pusat dalam meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian, khususnya komoditas strategis nasional seperti padi dan jagung," ujarnya.
Namun demikian, pada tahun 2025 komoditas kedelai dan kelapa tidak mendapatkan alokasi anggaran dari APBN, sehingga tidak terdapat program bantuan benih untuk kedua komoditas tersebut di Kabupaten Blora.
DP4 menilai meskipun bantuan difokuskan pada komoditas utama, pemerataan dukungan terhadap komoditas lain tetap diperlukan guna mendorong diversifikasi pertanian serta memperkuat ketahanan pangan daerah.
Pemerintah daerah pun berharap alokasi anggaran ke depan dapat menjangkau lebih banyak komoditas agar kesejahteraan petani meningkat secara lebih merata.
Pemerintah pusat kembali mengalokasikan program bongkar ratoon atau penanaman ulang lahan tebu lama seluas 1.000 hektare di Kabupaten Blora pada 2026, melanjutkan capaian tahun sebelumnya yang berhasil menyerap seluruh kuota dengan luasan yang sama.
Hingga awal Mei 2026, realisasi program tersebut baru mencapai sekitar 200 hektare dan masih dalam proses identifikasi lahan.
Saat ini, luas lahan tebu di Kabupaten Blora diperkirakan mencapai 6.000 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.000 hektare telah menerima manfaat program bongkar ratoon pada 2025.
Dalam program ini, petani penerima manfaat mendapatkan bantuan bibit tebu sebanyak 6.000 mata atau setara sekitar 6 ton per hektare. Selain itu, tersedia bantuan biaya pembongkaran lahan yang disalurkan melalui kelompok tani.
Untuk tenaga kerja, setiap hektare lahan dialokasikan 40 hari orang kerja (HOK).
Dengan asumsi upah harian sebesar Rp90 ribu, total bantuan tenaga kerja mencapai Rp3,6 juta per hektare.
Namun, tidak semua lahan tebu dapat mengikuti program tersebut. Lahan dengan kondisi tanaman yang masih produktif tidak direkomendasikan untuk dilakukan bongkar ratoon. Sedangkan, umumnya berusia 3-5 tahun, meskipun di Blora ada yang mencapai 7 tahun.
Baca juga: DPRD Blora dorong penanganan kasus Snapboost dipercepat dan transparan