Logo Header Antaranews Jateng

Budayawan dan antropolog menyerukan penguatan budaya Banyumas

Minggu, 3 Mei 2026 09:06 WIB
Image Print
Antropolog asal Amerika Serikat Prof Rene TA Lysloff saat menjadi narasumber Dialog "Harmonisasi Budaya-Merawat Kebhinekaan dengan Fondasi Empat Pilar Kebangsaan" dalam rangkaian kegiatan "Banyumas Ngibing 24 Jam Menari" di Pendopo Adipati Marapat, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (2/5/2026) sore. ANTARA/Sumarwoto

Banyumas (ANTARA) - Budayawan Banyumas Bambang Widodo dan antropolog asal Amerika Serikat Prof Rene TA Lysloff menyerukan penguatan budaya Banyumas melalui pelestarian bahasa lokal, dokumentasi seni tradisi, dan ruang inovasi bagi generasi muda.

Saat menjadi narasumber Dialog "Harmonisasi Budaya-Merawat Kebhinekaan dengan Fondasi Empat Pilar Kebangsaan" dalam rangkaian kegiatan "Banyumas Ngibing 24 Jam Menari" di Pendopo Adipati Marapat, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu sore, Bambang mengatakan bahasa daerah merupakan fondasi utama dalam pewarisan budaya tradisi.

"Manakala bahasa lokal sudah tidak diajarkan lagi di dalam sistem pendidikan kita, maka pasti jauh dari rasa cinta terhadap budaya tradisi," katanya.

Menurut dia, berbagai kesenian tradisional, seperti lengger, calung, wayang, hingga seni tutur daerah akan semakin sulit dipahami generasi muda apabila bahasa lokal semakin ditinggalkan.

Ia mengatakan budaya Banyumasan bagian dari subkultur Jawa yang memiliki identitas khas dan dapat dikenali melalui sejumlah unsur, seperti kesenian, kuliner, pakaian adat, dialek, adat istiadat, hingga senjata tradisional.

"Begitu mendhoan, orang langsung tahu itu Banyumasan. Begitu mendengar dialek ngapak, orang juga langsung mengenali identitas Banyumas," katanya.

Menurut Bambang, wilayah kultur Banyumasan tidak hanya mencakup Kabupaten Banyumas, juga meliputi Purbalingga, Banjarnegara, sebagian wilayah Cilacap, serta daerah lain yang memiliki kesamaan karakter budaya.

Ia juga menyoroti pengaruh budaya global yang dinilai mendorong pergeseran orientasi masyarakat terhadap budaya lokal sehingga diperlukan dukungan kebijakan pendidikan yang memberi ruang lebih besar bagi bahasa daerah.

Ia mendorong pemerintah untuk kembali memberi porsi lebih besar terhadap penggunaan bahasa daerah dalam pendidikan dasar sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan budaya lokal.

Profesor Rene mengatakan seni rakyat memiliki perjalanan sejarah yang kompleks karena sebagian besar berkembang melalui tradisi lisan dan minim dokumentasi tertulis.

"Kalau melihat sejarah seni rakyat itu rumit sekali untuk mengetahui sejarahnya, karena kebanyakan diwariskan secara lisan, tidak banyak yang ditulis," katanya.

Menurut dia, kesenian rakyat seperti lengger berkembang melalui proses pewarisan langsung dari para empu seni kepada generasi berikutnya sehingga keberlangsungan sebagai bergantung pada regenerasi dan keterlibatan masyarakat.

Ia juga menyoroti perubahan bentuk pertunjukan seni Banyumasan yang terus beradaptasi, mulai dari pertunjukan sederhana di ruang terbuka hingga memanfaatkan tata panggung, pencahayaan, dan teknologi audio modern.

Terkait dengan hal itu, ia menayangkan video sejumlah pertunjukan Lengger Banyumasan hasil penelitian yang dilakukannya sejak tahun 1980-an.

Dalam video-video tersebut terlihat berbagai perubahan seperti gaya tarian, bentuk panggung, dan sebagainya.

Menurut dia, perubahan tersebut menunjukkan seni tradisi memiliki kemampuan untuk berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan identitas dasarnya.

"Seni itu harus hidup. Kalau hanya diam pada masa lalu dan tidak berubah, seni bisa mati," katanya.

Ia mengibaratkan keberlangsungan seni tradisi seperti bahasa yang akan punah apabila tidak lagi digunakan dan diwariskan secara aktif.

Kegiatan "Banyumas Ngibing 24 Jam Menari" digelar di kawasan Banyumas Kota Lama pada 2-3 Mei 2026 dengan menghadirkan pertunjukan tari, dialog budaya, mural, serta berbagai aktivitas seni yang melibatkan komunitas budaya dari Banyumas maupun berbagai daerah lain serta mancanegara.

Baca juga: Ajang "Banyumas Ngibing" ditargetkan masuk dalam Kalender Even Nusantara



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026