Semarang (ANTARA) - Maka, sangat relevan Pramoedya Ananta Toer menuliskan, "Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran," karena fakta yang sering terjadi adalah sebaliknya.
***
Kita sadari atau tidak, sebenarnya penggunaan bahasa Indonesia oleh masyarakat baik dalam obrolan sehari-hari, bahasa di media, atau bahasa yang lebih resmi -misal dalam pidato atau ceramah- tidaklah terlalu sulit untuk kita temukan gaya bahasa yang beraneka ragam. Pada masa puncak Covid-19 seorang dosen Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah, yang juga seorang perwira TNI, menulis buku berjudul Perang Melawan Corona. Meski yang menulis buku tersebut seorang tentara, perang melawan Corona tentu bukan dengan AK-47 atau dengan rudal balistik. Perang melawan Corona tentu sebuah metafora.
Kita juga sudah familier dengan ungkapan panjang tangan, banyak makan asam garam, banting tulang, bagi-bagi kursi dan yang lainnya. Atau juga gaya bahasa eufimisme yang “membungkus” fakta asli agar terlihat atau terdengar lebih halus, seperti prasejahtera untuk memperhalus miskin; bantuan untuk membungkus utang, atau pekerja seks komersial untuk menggantikan pelacur.
Selain itu kita juga sudah tak asing dengan sarkasme. Contoh sarkasme yang cukup karib di telinga kita di antaranya lirik lagu dari grup Slank berjudul Tonk Kosong; “Oceh sana-sini nggak ada isi, otak udang ngomongnya sembarang.” Atau juga lirik lagu Surat Buat Wakil Rakyat dari Iwan Fals; “Wakil rakyat seharusnya merakyat/Jangan tidur waktu sidang soal rakyat/Wakil rakyat bukan paduan suara/Hanya tahu nyanyian lagu setuju.”
Dari banyaknya gaya bahasa yang sering kita jumpai dalam praktik kebahasaan di masyarakat, selama ini sepertinya belum pernah ada yang “memprotes” atas ungkapan-ungkapan baik yang bersifat metafora, eufemisme, ataupun sarkasme. Namun pada momen Idulfitri 1445 H muncul anomali atas hal tersebut.
Adalah jamaah Masjid Aolia di kecamatan Panggang, kabupaten Gunung Kidul, D.I. Yogyakarta yang menjadi punca atas anomali tersebut. Jamaah yang dipimpin oleh KH R Ibnu Hajar Soleh Prenolo itu berhari raya “lebih cepat” 5 hari dari yang ditetapkan oleh pemerintah maupun oleh organisasi keagamaan besar seperti Muhammadiyah dan/atau NU. Nilai yang dipegang selama ini, perbedaan adalah rahmat, seolah-olah raib begitu saja dalam kasus ini. Dan dengan cepat menggelinding menjadi polemik berskala nasional.
Di samping karena berbeda (dalam berhari raya) dengan mayoritas Muslim di Indonesia, polemik jamaah Masjid Aolia ini semakin dibicarakan khalayak ramai karena pernyataan Mbah Benu, panggilan karib untuk KH R. Ibnu Hajar Soleh Prenolo. Dalam pernyataannya yang diliput oleh banyak media, Mbah Benu menyebutkan, “Saya tidak pada perhitungan. Saya telepon langsung kepada Allah Ta’ala.” Dan atas pernyataan tersebut, banyak sekali masyarakat yang menghakimi bahwa ucapan Mbah Benu “agak lain” atau bahkan menertawakannya. Tak kurang organisasi sekelas NU (yang selama ini memiliki ruang tasamuh sangat luas) juga mengecam “pilihan” jamaah Masjid Aolia ini. Kanal daring kantor berita ANTARA memuat berita, “PBNU kecam Lebaran Jumat di Gunungkidul, dalih sudah telepon Allah.” (ANTARA, 6 April 2024).
Bahwa dalam penentuan awal bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal (Idulfitri) sudah ada pedoman dan dasar-dasarnya kita telah mafhumi bersama. Dan tulisan ini tidak sedang membahas ihwal tersebut. Yang menjadi fokus tulisan ini adalah ucapan Mbah Benu yang bergaya bahasa metafora, “Saya telepon langsung kepada Allah Ta’ala”.
Jika tak didasari dengan kesadaran bahwa ucapan Mbah Benu adalah sebuah metafora, tentu akan muncul pertanyaan; apakah benar Allah memiliki telepon dan Mbah Benu menyimpan nomornya? Sampai-sampai akhirnya Mbah Benu mengklarifikasi dan menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang timbul sebab pernyataannya yang bercorak metafora tersebut.
Di sinilah letak kegagalan membaca metafora secara berjamaah. Jenny Thomas (1983) menyebutnya sebagai “kegagalan pragmatik,” yakni ketidakmampuan untuk memahami apa yang dimaksud dari apa yang diucapkan.
Sementara kamus Merriam-Webster mendefinisikan metafora sebagai suatu kiasan yang menggunakan kata atau frasa yang secara harfiah menunjukkan satu jenis objek atau gagasan yang digunakan sebagai pengganti objek atau gagasan lain untuk memberi kesan kemiripan atau analogi di antara keduanya.
Jauh sebelum Mbah Benu bermetafora “Telepon langsung kepada Allah”, penyair prominen (Alm.) Joko Pinurbo telah bermetafora dalam puisinya yang reflektif, “Tuhan, ponsel saya rusak dibanting gempa. Nomor kontak saya hilang semua. Satu-satunya yang tersisa ialah nomorMu." “Tuhan berkata: Dan itulah satu-satunya nomor yang tak pernah kausapa."
Di titik ini, Mbah Benu “sekelas” dengan (Alm.) Joko Pinurbo. Mereka berdua sama-sama menyimpan “nomor kontak Allah SWT.” Sementara kita, kadang terlalu cepat berkomentar, terlalu lajak menghakimi.
*Esais, pencinta Bahasa Indonesia, Alumnus Universitas Negeri Yogyakarta