Logo Header Antaranews Jateng

Main badminton dengan dua kok

Kamis, 2 April 2026 15:02 WIB
Image Print
Ilustrasi Shuttlecock (Meta AI)

Semarang (ANTARA) - Saya (dan sangat mungkin juga Anda) rasanya sudah tidak asing dengan kelakar bapak-bapak terhadap olahraga tertentu, misal sepak bola dan/atau badminton. Kelakar itu antara lain, “bola cuma satu aja diperebutkan banyak orang,” atau, “shuttlecock cuma satu dipukul ke sana kemari.” Tentu, kalimat itu terlontar dengan kesadaran penuh bahwa hal tersebut sekadar kelakar, jokes, atau candaan.

Kamus Merriam-Webster mendefinisikan joke atau candaan sebagai; sesuatu yang dikatakan atau dilakukan untuk memancing tawa¹, unsur lucu atau konyol dalam sesuatu², sesuatu yang tidak perlu dianggap serius³. Untuk definisi terakhir, Merriam-Webster menambahkan keterangan; sering digunakan dalam konstruksi negatif.

Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, “canda” diartikan sebagai tingkah; kelakar, senda gurau; seloroh, dan “candaan” didefinisikan sebagai; hasil bercanda; gurauan; kelakar.

Meski berkadar guyon, kelakar, candaan atau gurau, dua kalimat yang saya contohkan di atas justru memberikan kekuatan logika yang tersembunyi di baliknya. Logika yang tersembunyi atas dua contoh kalimat kelakar di atas yakni, “Sudah barang tentu dalam sepak bola cukup satu bola yang diperlukan untuk sebuah permainan yang oleh Federation Internationale de Football Association (FIFA) didefinisikan sebagai; suatu permainan yang menggunakan bola sepak dan dimainkan oleh sebelas pemain dalam satu tim, serta dimainkan di atas lapangan rumput atau turf dengan ukuran panjang lapangan 105 meter dan lebar 68 meter,” dan “Ya, memang cukup satu kok yang dibutuhkan dalam permainan badminton yang oleh Badminton World Federation (BWF) didefinisikan sebagai olahraga raket yang dimainkan oleh dua pemain (tunggal) atau dua pasangan (ganda) yang berlawanan, dengan tujuan memukul shuttlecock melewati net dan mendaratkannya di area lapangan lawan untuk mencetak poin. Permainan ini berlangsung dalam sistem rally point, di mana setiap reli dapat menghasilkan poin bagi pemain atau pasangan yang memenangkan reli tersebut.”

Apa jadinya jika dalam permainan sepak bola jumlah bolanya lebih dari satu (dua, atau tiga, misalnya)? Tentu permainan sepak bola akan kacau, dan permainan tersebut tak dapat disebut sebagai permainan sepak bola sebagaimana definisi dari FIFA. Dan bagaimana pula jika dalam badminton shuttlecock yang digunakan lebih dari satu? Pemain dari salah satu sisi lapangan melakukan servis dengan satu shuttlecock, dan pemain dari sisi lapangan yang lain juga melakukan servis dengan shuttlecock yang berbeda? Maka kedua shuttlecock tersebut sangat mungkin tak akan bersambut. Dan yang sudah pasti, permainan badminton tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Apakah ada orang yang “bermain badminton dengan dua shuttlecock” dalam satu pertandingan? Ada. Dalam momentum Lebaran seperti sekarang ini, banyak.

Bagi umat Islam, Idulfitri adalah momentum yang digunakan untuk saling meminta maaf dan memaafkan. Di kampung-kampung, tradisi meminta maaf dan memaafkan masih diwujudkan dalam bertemu langsung antar saudara atau antar tetangga dengan berkunjung ke rumah (orang yang biasanya dituakan) dan saling bersalaman satu dengan yang lainnya.

Namun dengan kemajuan teknologi dan luasnya jangkauan pertemanan, saudara, atau kolega, aktivitas maaf-memaafkan tersebut sudah jamak memanfaatkan layanan pesan. Dan karena jumlah teman, saudara, atau kolega yang tidak sedikit (bisa ratusan atau bahkan ribuan dalam buku telepon kita), banyak dari kita yang memilih menggunakan pattern ucapan Idulfitri sekaligus permohonan maaf yang “pabrikan”.

Hal ini sangat bisa kita maklumi. Hanya saja, jika kita ingin menggunakan pattern ucapan tersebut, seyogianya kita adalah “pemain dengan pemegang servis” sebagaimana dalam permainan badminton. Kitalah orang yang pertama memukul “shuttlecock” tersebut, agar komunikasi berjalan efektif, nyambung, dan interaktif. Dalam buku Psikologi Komunikasi, Jalaluddin Rakhmat menyebutkan bahwa salah satu ciri dari komunikasi yang efektif adalah adanya keterhubungan.

Jika kita sudah “kalah cepat” dengan teman atau saudara atau kolega yang telah melakukan “servis” dengan memukul “shuttlecock” mereka ke handphone kita, sudah selayaknya kita menerima “permainan” menggunakan “shuttlecock” dari orang yang telah melakukan “servis” terlebih dahulu.

Namun faktanya tidaklah demikian. Alih-alih kita menjawab ucapan selamat Idulfitri dan permohonan maaf yang berupa “pattern pabrikan” dengan kalimat yang nyambung atas kiriman teman atau saudara atau kolega kita tersebut, kita kadang (atau sering?) lebih memilih melakukan “servis” baru. Mengeluarkan “shuttlecock” sendiri. Maka terjadilah badminton dengan dua shuttlecock tadi.

Apakah Anda pernah mengalaminya?
*Esais, pencinta bahasa Indonesia



Oleh

COPYRIGHT © ANTARA 2026