Purwokerto (ANTARA) - Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan (DKUKMP) Kabupaten Banyumas Gatot Eko Purwadi mengatakan harga aneka cabai di sejumlah pasar tradisional wilayah itu kembali mengalami kenaikan.
"Harga aneka cabai pada periode bulan Januari memang mengalami penurunan setelah sempat melonjak pada masa Natal 2025 dan Tahun Baru 2026," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu.
Namun pada pekan pertama Februari, Gatot menjelaskan, harga aneka cabai kembali naik secara bertahap, terutama cabai rawit merah.
Ia mencontohkan harga grosir cabai rawit merah di Pasar Manis Purwokerto pada Rabu (4/2) mencapai Rp72.000 per kilogram, naik Rp12.000 dibandingkan Selasa (3/2) yang tercatat Rp60.000 per kilogram.
Sementara cabai merah besar naik dari Rp30.000/kg menjadi Rp35.000/kg, cabai merah keriting dari Rp28.000/kg menjadi Rp35.000/kg, dan cabai rawit keriting bertahan di kisaran Rp45.000–Rp50.000/kg.
"Berdasarkan informasi yang kami himpun, kenaikan harga cabai disebabkan faktor cuaca yang sering hujan, terutama di sentra penghasil cabai," katanya.
Kendati demikian, dia mengakui besaran kenaikan berbeda di tiap pasar karena kualitas dan proses penyortiran komoditas.
Terkait dengan hal itu, dia mengatakan DKUKMP Kabupaten Banyumas terus memantau perkembangan harga seluruh komoditas termasuk cabai dalam rangka pengendalian inflasi terutama menjelang bulan Ramadhan.
"Kami akan terus berupaya agar inflasi tetap terjaga karena pada bulan Januari 2026, Purwokerto mengalami deflasi 0,36 persen (month to month/mtm)," kata Gatot.
Salah seorang pedagang Pasar Manis Purwokerto, Anjar mengakui kenaikan harga cabai dipicu menurunnya pasokan akibat hujan.
"Kenaikan tertinggi terjadi pada cabai rawit merah, kini Rp8.000 per ons," katanya.
Dalam kesempatan terpisah, Pelaksana Harian Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Purwokerto Mahdi Abdillah mengatakan wilayah Banyumas Raya (Banyumas, Cilacap, Purbalingga dan Banjarnegara) mengalami deflasi pada Januari 2026 seiring normalisasi permintaan pasca-Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Menurut dia, dua kota di Banyumas Raya yang dijadikan pantauan Indeks Harga Konsumen (IHK), yakni Purwokerto dan Cilacap, mencatatkan deflasi bulanan dengan inflasi tahunan tetap terjaga dalam sasaran nasional 2,5 plus minus 1 persen.
"Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik), Purwokerto mengalami deflasi sebesar 0,36 persen (mtm) dengan inflasi tahunan 2,79 persen (yoy), sedangkan Cilacap mencatatkan deflasi 0,42 persen (mtm) dengan inflasi tahunan 2,63 persen (yoy)," katanya.
Ia mengatakan deflasi di kedua kota tersebut terutama dipicu oleh penurunan harga komoditas pangan, khususnya cabai, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras.
Menurut dia, penurunan tekanan inflasi pangan didukung oleh meningkatnya pasokan pascapanen di sejumlah sentra produksi serta meredanya permintaan setelah periode HBKN.
Di sisi lain, kata dia, beberapa komoditas nonpangan seperti emas perhiasan masih mengalami inflasi akibat kenaikan permintaan.
"Terkendalinya inflasi Banyumas Raya tidak terlepas dari sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui pelaksanaan pasar murah, penguatan koordinasi stabilisasi pangan, serta komunikasi efektif kepada masyarakat dan pelaku usaha," katanya.
Ia mengatakan TPID di wilayah Banyumas Raya bersama KPw BI Purwokerto akan terus memperkuat langkah pengendalian inflasi, khususnya dalam menghadapi periode HBKN Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriyah.
Baca juga: Harga sejumlah bahan pokok di Banyumas berangsur turun