Banjarnegara (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) bagi korban longsor di Desa Pandanarum dengan capaian 25 unit telah rampung dari 32 unit yang menjadi skala prioritas untuk dibangun.
"Percepatan pembangunan huntara ini sesuai arahan Ibu Bupati (Bupati Banjarnegara Amalia Desiana) agar pengungsi segera menempati hunian yang layak," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara Aji Piluroso di Banjarnegara, Kamis.
Menurut dia, pemerintah menargetkan para pengungsi dapat mulai menempati huntara secara bertahap menjelang bulan Ramadan, sehingga kebutuhan tempat tinggal sementara dapat segera terpenuhi.
Pada tahap pertama pembangunan huntara, kata dia, pemerintah merencanakan pembangunan sebanyak 50 unit.
Selain pembangunan fisik, lanjut dia, proses persiapan lahan juga terus dilakukan untuk mendukung kelancaran pembangunan huntara bagi para korban.
Ia mengatakan dari 50 unit huntara tahap pertama tersebut, pemerintah menerapkan skala prioritas bagi korban yang paling membutuhkan, khususnya lanjut usia dan penyintas dengan kondisi kesehatan tertentu.
"Pemerintah belum bisa langsung membangun seluruh huntara karena berbagai kendala, termasuk kesiapan lokasi yang akan digunakan, sehingga pada tahap awal ini menggunakan skala prioritas. Lansia, pasien stroke, atau warga dengan kondisi sakit akan didahulukan," katanya menjelaskan.
Setelah pembangunan tahap pertama selesai, kata dia, pemerintah akan melanjutkan pembangunan huntara tahap kedua.
Dengan demikian, kata dia, seluruh kebutuhan huntara bagi korban longsor di Pandanarum diharapkan dapat terpenuhi secara bertahap.
Ia mengatakan Pemkab Banjarnegara merencanakan pembangunan sedikitnya 200 unit huntara bagi korban longsor Pandanarum.
"Namun, pelaksanaannya dilakukan bertahap dengan mempertimbangkan kondisi lahan, proses pembebasan, serta aspek teknis lainnya," kata Aji.
Bencana tanah longsor yang melanda Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara, Minggu (16/11/2025) siang, telah menyebabkan lebih dari 200 rumah warga mengalami kerusakan dan 586 jiwa atau 214 keluarga mengungsi.
Selain kerusakan bangunan rumah, sebanyak 17 orang meninggal dunia dan 11 orang lainnya belum ditemukan.
Baca juga: Saat hujan menjadi ancaman di Banyumas Raya sepanjang tahun 2025