Seniman peringati Hari Wayang Nasional di Grojokan Kapuhan Magelang
Jumat, 5 November 2021 16:05 WIB
Seniman dari Padepokan Seni Budi Aji memperingati Hari Wayang Nasional di Grojogan Kapuhan, Sawangan, Kabupaten Magelang. ANTARA/Heru Suyitno
Magelang (ANTARA) - Sejumlah seniman dari Padepokan Seni Budi Aji memperingati Hari Wayang Nasional yang jatuh pada 7 November dengan melakukan ritual di Grojogan Kapuhan, Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Jumat.
Ritual yang diikuti sekitar 20 orang tersebut membawa gunungan dan Batara Kala serta sesaji berupa nasi tumpeng, ingkung, dan jajan pasar di Grogojan Kapuhan, Kecamatan Sawangan.
Seorang yang membawa gunungan dan Batara Kala setelah sampai di kawasan grojogan duduk di atas batu sambil memainkan wayang. Sedangkan peserta lainnya melakukan ritual dengan menari di atas bebatuan maupun di air.
Baca juga: Pemkot Magelang gelar wayang kulit untuk sosialisasi aturan cukai
Ketua Padepokan Seni Budi Aji Kikis Wantoro mengatakan alasan memperingati Hari Wayang dengan melakukan ritual di Grojogan Kapuhan ini bukan karena grojogannya, melainkan Sungai Pabelan ini airnya bersumber dari Gunung Merapi.
Menurut dia nenek moyang saat menciptakan wayang tidak semata-mata asal senang, tetapi pasti ada tapa brata. Selain itu, laku prihatin dan sebagainya.
Ia menyampaikan ritual ini mengambil tema tepung alam, eling purwa. Eling purwa, artinya ingat dengan permulaan.
"Karena itu kami membawa tokoh wayang Batara Kala dan kami melakukan ritual di Sungai Pabelan yang sumbernya dari Gunung Merapi, maka simbolnya gunungan," katanya.
Menurut dia ritual tersebut juga untuk memperingati erupsi Gunung Merapi yang terjadi 11 tahun lalu, tepatnya pada 26 Oktober 2010.
Baca juga: Dekranasda Pekalongan siap fasilitasi pemasaran kerajinan wayang kulit
Baca juga: Wayang "Pandawa Syukur" pungkasi peringatan hari jadi Kota Magelang
Ritual yang diikuti sekitar 20 orang tersebut membawa gunungan dan Batara Kala serta sesaji berupa nasi tumpeng, ingkung, dan jajan pasar di Grogojan Kapuhan, Kecamatan Sawangan.
Seorang yang membawa gunungan dan Batara Kala setelah sampai di kawasan grojogan duduk di atas batu sambil memainkan wayang. Sedangkan peserta lainnya melakukan ritual dengan menari di atas bebatuan maupun di air.
Baca juga: Pemkot Magelang gelar wayang kulit untuk sosialisasi aturan cukai
Ketua Padepokan Seni Budi Aji Kikis Wantoro mengatakan alasan memperingati Hari Wayang dengan melakukan ritual di Grojogan Kapuhan ini bukan karena grojogannya, melainkan Sungai Pabelan ini airnya bersumber dari Gunung Merapi.
Menurut dia nenek moyang saat menciptakan wayang tidak semata-mata asal senang, tetapi pasti ada tapa brata. Selain itu, laku prihatin dan sebagainya.
Ia menyampaikan ritual ini mengambil tema tepung alam, eling purwa. Eling purwa, artinya ingat dengan permulaan.
"Karena itu kami membawa tokoh wayang Batara Kala dan kami melakukan ritual di Sungai Pabelan yang sumbernya dari Gunung Merapi, maka simbolnya gunungan," katanya.
Menurut dia ritual tersebut juga untuk memperingati erupsi Gunung Merapi yang terjadi 11 tahun lalu, tepatnya pada 26 Oktober 2010.
Baca juga: Dekranasda Pekalongan siap fasilitasi pemasaran kerajinan wayang kulit
Baca juga: Wayang "Pandawa Syukur" pungkasi peringatan hari jadi Kota Magelang
Pewarta : Heru Suyitno
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Sumanto ajak masyarakat pahami pesan moral dalam lakon Wayang Kulit Kresna Duta
21 November 2025 17:27 WIB
Sumanto apresiasi dalang Karanganyar gotong-royong pentaskan wayang kulit 30 jam
21 November 2025 15:56 WIB
Ketua DPRD Jateng Sumanto dinobatkan sebagai Bapaknya Wayang Kabupaten Karanganyar
13 November 2025 15:48 WIB
Pemkot Semarang siapkan rekayasa lalu lintas sambut Festival Wayang Semesta
07 November 2025 16:38 WIB