Wali Kota Semarang: Umumkan kasus COVID tanpa konfirmasi bisa picu keresahan
Kamis, 3 September 2020 5:12 WIB
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. ANTARA/ I.C.Senjaya
Semarang (ANTARA) - Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyebut mengumumkan jumlah kasus COVID-19 di suatu daerah tanpa melakukan konfirmasi kepada pemangku kepentingan wilayah yang dimaksud dapat menimbulkan keresahan di masyarakat.
Hal tersebut disampaikan wali kota yang akrab disapa Hendi itu di Semarang, Rabu, menanggapi pernyataan juru bicara Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito yang menyebut Ibu Kota Jawa Tengah ini sebagai daerah dengan kasus positif tertinggi di Indonesia melalui akun Youtube BNPB pada hari Senin (31/8).
Menurut Hendi, terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara yang disampaikan Satgas COVID-19 dengan Pemerintah Kota Semarang.
Satgas menyebut jumlah kasus aktif COVID-19 di Semarang mencapai 2.317 kasus, sementara data Dinas Kesehatan Kota Semarang hanya mencatatkan sekitar 470 kasus pasien positif yang masih ditangani.
"Data kasus harus disinkronkan. Kalau ada yang belum terdata harus segera dikonfirmasikan agar pasien bisa segera ditangani," katanya.
Ia menegaskan semakin cepat mengetahui seseorang positif COVID-19, maka bisa semakin cepat untuk disembuhkan serta mencegah penularan ke orang lain.
Bahkan, lanjut dia, tes COVID-19 yang sudah dilakukan Pemkot Semarang sudah mencapai 48 ribu orang per 1 juta penduduk, lebih tinggi dari anjuran pemerintah.
"Ketidakselarasan data ini jangan sampai menimbulkan persepsi Pemkot Kota Semarang tidak melakukan apa-apa," katanya.
Ia menegaskan penanganan COVID-19 di Kota Semarang masih terkendali.
Hal tersebut disampaikan wali kota yang akrab disapa Hendi itu di Semarang, Rabu, menanggapi pernyataan juru bicara Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito yang menyebut Ibu Kota Jawa Tengah ini sebagai daerah dengan kasus positif tertinggi di Indonesia melalui akun Youtube BNPB pada hari Senin (31/8).
Menurut Hendi, terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara yang disampaikan Satgas COVID-19 dengan Pemerintah Kota Semarang.
Satgas menyebut jumlah kasus aktif COVID-19 di Semarang mencapai 2.317 kasus, sementara data Dinas Kesehatan Kota Semarang hanya mencatatkan sekitar 470 kasus pasien positif yang masih ditangani.
"Data kasus harus disinkronkan. Kalau ada yang belum terdata harus segera dikonfirmasikan agar pasien bisa segera ditangani," katanya.
Ia menegaskan semakin cepat mengetahui seseorang positif COVID-19, maka bisa semakin cepat untuk disembuhkan serta mencegah penularan ke orang lain.
Bahkan, lanjut dia, tes COVID-19 yang sudah dilakukan Pemkot Semarang sudah mencapai 48 ribu orang per 1 juta penduduk, lebih tinggi dari anjuran pemerintah.
"Ketidakselarasan data ini jangan sampai menimbulkan persepsi Pemkot Kota Semarang tidak melakukan apa-apa," katanya.
Ia menegaskan penanganan COVID-19 di Kota Semarang masih terkendali.
Pewarta : Immanuel Citra Senjaya
Editor : Mugiyanto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Turnamen U-13 Piala Wali Kota Semarang untuk menjaring bibit pesepak bola muda
26 April 2026 7:11 WIB
Terpopuler - Kesehatan
Lihat Juga
UMS luncurkan klinik upaya berhenti merokok, perkuat implementasi Kampus Bebas Asap Rokok
24 April 2026 11:01 WIB
BPJS Kesehatan Surakarta gelar sosialisasi Program JKN kepada tokoh agama dan masyarakat
23 April 2026 18:49 WIB