UNS merekomendasikan sistem barter di masa pandemi
Jumat, 17 Juli 2020 19:42 WIB
Ilustrasi-Pedagang pasar tradisional di Kota Solo. ANTARA/Aris Wasita
Solo (ANTARA) - Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta merekomendasikan penerapan sistem barter atau bertukar barang sebagai upaya untuk tetap menghidupkan pasar tradisional di masa pandemi COVID-19.
"Dasar dari konsep ini adalah ketika transaksi berkurang karena krisis COVID-19 dan jumlah uang beredar adalah tetap, maka agar tidak terjadi inflasi yang harus dilakukan adalah mengurangi kecepatan uang berpindah tangan," kata salah satu anggota tim riset dari UNS Intan Novela Qurrotul Aini di Solo, Jumat.
Dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNS tersebut mengatakan konsep ini penting dilakukan menyusul menurunnya transaksi ekonomi akibat pembatasan sosial yang diterapkan di awal Maret 2020 lalu karena pandemi COVID-19.
"Banyak pedagang khususnya di pasar tradisional yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya karena pendapatan mereka turun drastis. Data dari Dinas Perdagangan Kota Surakarta di bulan Mei 2020, transaksi di Kota Solo menurun terus antara 30-90 persen sesuai jenis komoditas," katanya.
Ia mengatakan konsep barter sendiri sudah mulai diterapkan pada sebagian pedagang di Pasar Legi Solo. Bahkan dari hasil riset, dikatakannya, para pedagang cukup antusias mengingat mereka mengalami penurunan omzet penjualan yang sangat drastis.
Baca juga: UNS tanggung biaya pengobatan 25 mahasiswa tertular COVID-19
"Pada riset ini ada dana awal yang didapat tim dari donatur dalam dan luar negeri untuk selanjutnya dibelikan sembako dan pedagang melakukan barter dengan barang dagangan mereka, di antaranya pisang, buah, sayur, dan empon-empon," katanya.
Ia mengatakan ketika barang dari pedagang sudah cukup banyak, pada kisaran Mei-Juni 2020 pihaknya sudah menformalkan konsep barter, termasuk barang-barang barter dari pedagang mulai diseleksi kualitasnya, diberi petunjuk harga dan dijual secara daring baik melalui media sosial maupun website.
"Memasuki 'new normal' (adaptasi kehidupan baru) kegiatan barter mulai menurun namun pasar penjualan daring makin luas, pedagang banyak mengambil manfaatnya dari penjualan daring dan pesanan konsumen makin luas tidak hanya barang yang ada di Pasar Legi tetapi juga barang-barang yang dijual di pasar-pasar lainnya," katanya.
Meski demikian, dikatakannya, belum semua pedagang bersedia untuk ikut menerapkan sistem barter tersebut karena kurangnya kepercayaan mereka terhadap keamanan dari sistem ini.
"Oleh karena itu, hingga saat ini kami terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada para pedagang karena dengan menerapkan sistem ini mereka akan memperoleh sejumlah manfaat, salah satunya mampu memperluas jaringan pasar melalui daring dengan menjual barang yang sebelumnya tidak mereka punya," katanya.
Baca juga: Mahasiswi UNS inisiasi rumah belajar gratis
Baca juga: Pelaksanaan UTBK UNS mengikuti protokol kesehatan secara ketat
"Dasar dari konsep ini adalah ketika transaksi berkurang karena krisis COVID-19 dan jumlah uang beredar adalah tetap, maka agar tidak terjadi inflasi yang harus dilakukan adalah mengurangi kecepatan uang berpindah tangan," kata salah satu anggota tim riset dari UNS Intan Novela Qurrotul Aini di Solo, Jumat.
Dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNS tersebut mengatakan konsep ini penting dilakukan menyusul menurunnya transaksi ekonomi akibat pembatasan sosial yang diterapkan di awal Maret 2020 lalu karena pandemi COVID-19.
"Banyak pedagang khususnya di pasar tradisional yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya karena pendapatan mereka turun drastis. Data dari Dinas Perdagangan Kota Surakarta di bulan Mei 2020, transaksi di Kota Solo menurun terus antara 30-90 persen sesuai jenis komoditas," katanya.
Ia mengatakan konsep barter sendiri sudah mulai diterapkan pada sebagian pedagang di Pasar Legi Solo. Bahkan dari hasil riset, dikatakannya, para pedagang cukup antusias mengingat mereka mengalami penurunan omzet penjualan yang sangat drastis.
Baca juga: UNS tanggung biaya pengobatan 25 mahasiswa tertular COVID-19
"Pada riset ini ada dana awal yang didapat tim dari donatur dalam dan luar negeri untuk selanjutnya dibelikan sembako dan pedagang melakukan barter dengan barang dagangan mereka, di antaranya pisang, buah, sayur, dan empon-empon," katanya.
Ia mengatakan ketika barang dari pedagang sudah cukup banyak, pada kisaran Mei-Juni 2020 pihaknya sudah menformalkan konsep barter, termasuk barang-barang barter dari pedagang mulai diseleksi kualitasnya, diberi petunjuk harga dan dijual secara daring baik melalui media sosial maupun website.
"Memasuki 'new normal' (adaptasi kehidupan baru) kegiatan barter mulai menurun namun pasar penjualan daring makin luas, pedagang banyak mengambil manfaatnya dari penjualan daring dan pesanan konsumen makin luas tidak hanya barang yang ada di Pasar Legi tetapi juga barang-barang yang dijual di pasar-pasar lainnya," katanya.
Meski demikian, dikatakannya, belum semua pedagang bersedia untuk ikut menerapkan sistem barter tersebut karena kurangnya kepercayaan mereka terhadap keamanan dari sistem ini.
"Oleh karena itu, hingga saat ini kami terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada para pedagang karena dengan menerapkan sistem ini mereka akan memperoleh sejumlah manfaat, salah satunya mampu memperluas jaringan pasar melalui daring dengan menjual barang yang sebelumnya tidak mereka punya," katanya.
Baca juga: Mahasiswi UNS inisiasi rumah belajar gratis
Baca juga: Pelaksanaan UTBK UNS mengikuti protokol kesehatan secara ketat
Pewarta : Aris Wasita
Editor : Sumarwoto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemkot Pekalongan berlakukan penyesuaian sistem belajar karena terdampak banjir
20 January 2026 15:53 WIB
Sistem kelistrikan Aceh pulih, PLN lanjutkan pemulihan distribusi hingga ke masyarakat
20 December 2025 20:44 WIB
Sistem kelistrikan Aceh kembali terhubung, PLN masuki tahap pengoperasian pembangkit
17 December 2025 16:00 WIB
Progres Tol Semarang–Demak Seksi 1 capai 58,31 persen, dilengkapi sistem pengendali banjir
15 December 2025 16:11 WIB
Terpopuler - Bisnis
Lihat Juga
Daftar harga emas di Pegadaian hari ini, tembus angka Rp2,918 juta per gram
22 January 2026 8:20 WIB