Eijkman: Indonesia perlu percepatan pemeriksaan massal COVID-19
Rabu, 29 April 2020 13:15 WIB
Slide ilustrasi gambar perbedaan antara virus dan bakteri. ANTARA/HO-Paparan Frilasita Aisyah
Jakarta (ANTARA) - Wakil Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman bidang Penelitian Fundamental, Herawati Sudoyo, mengatakan perlunya percepatan pemeriksaan massal terkait
COVID-19 di tengah masyarakat Indonesia untuk mempercepat penanganan virus tersebut.
"Kunci menuju sukses untuk menangani COVID-19 adalah lakukan diagnostik cepat dan menyeluruh, tidak hanya kasus berat saja," kata Herawati kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, sejumlah strategi untuk percepatan penanganan COVID-19 di Indonesia di antaranya menemukan dan memeriksa individu terkait penularan COVID-19 dengan melakukan pemeriksaan dalam jumlah besar atau massal adanya virus dengan metode Rapid Test Molekuler atau Tes Cepat Molekuler.
Herawati menuturkan cara yang paling tepat untuk pemeriksaan COVID-19 dilakukan dengan menggunakan metode gold standard yakni Quantitative Reverse Transcription - Polymerase Chain Reaction (qRT-PCR).
Tes dengan qRT-PCR juga memungkinkan untuk mencari mereka yang tidak memiliki gejala karena imunitas yang tinggi, tetapi sebenarnya pembawa virus.
"Orang tanpa gejala inilah yang bisa menularkan virus secara luas," ujar Herawati.
Tes sangat bergantung pada kesediaan reagensia, fasilitas memadai dan sumber daya manusia (SDM).
Startegi lain adalah mengurangi penularan antar individu dan kontak antar anggota. Di sini jaga jarak atau "social dan physical distancing" sangat berperan.
Dalam penanganan COVID-19, pelayanan kesehatan juga harus memadai di Tanah Air. Hal ini akan berkaitan dengan jumlah penularan di rumah sakit atau klinik medik yang juga tinggi. Ini akan makin menambah jumlah kasus di Indonesia.
Ketersediaan sumber daya termasuk sumber daya manusia bidang kesehatan dan peralatan pendukung untuk penanganan COVID-19 juga menjadi penting dan harus dipastikan memadai.
Menurut Herawati, kunci kesuksesan penanganan COVID-19 sekarang ini adalah koordinasi yang baik dari beberapa aspek, tidak bisa berdiri sendiri.
Penanganan medis dan non medis harus bekerja menyeluruh dan kolaboratif. Sumber daya dari seluruh pihak lintas institusi dan bidang menjadi kekuatan untuk mengatasi COVID-19.
Baca juga: RS Diponegoro Semarang sediakan "drive thru" tes "swab" COVID-19
Baca juga: Kudus masih kesulitan sediakan masker bedah dan VTM
Baca juga: Bayi baru lahir di Jepara jalani tes swab COVID-19
COVID-19 di tengah masyarakat Indonesia untuk mempercepat penanganan virus tersebut.
"Kunci menuju sukses untuk menangani COVID-19 adalah lakukan diagnostik cepat dan menyeluruh, tidak hanya kasus berat saja," kata Herawati kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, sejumlah strategi untuk percepatan penanganan COVID-19 di Indonesia di antaranya menemukan dan memeriksa individu terkait penularan COVID-19 dengan melakukan pemeriksaan dalam jumlah besar atau massal adanya virus dengan metode Rapid Test Molekuler atau Tes Cepat Molekuler.
Herawati menuturkan cara yang paling tepat untuk pemeriksaan COVID-19 dilakukan dengan menggunakan metode gold standard yakni Quantitative Reverse Transcription - Polymerase Chain Reaction (qRT-PCR).
Tes dengan qRT-PCR juga memungkinkan untuk mencari mereka yang tidak memiliki gejala karena imunitas yang tinggi, tetapi sebenarnya pembawa virus.
"Orang tanpa gejala inilah yang bisa menularkan virus secara luas," ujar Herawati.
Tes sangat bergantung pada kesediaan reagensia, fasilitas memadai dan sumber daya manusia (SDM).
Startegi lain adalah mengurangi penularan antar individu dan kontak antar anggota. Di sini jaga jarak atau "social dan physical distancing" sangat berperan.
Dalam penanganan COVID-19, pelayanan kesehatan juga harus memadai di Tanah Air. Hal ini akan berkaitan dengan jumlah penularan di rumah sakit atau klinik medik yang juga tinggi. Ini akan makin menambah jumlah kasus di Indonesia.
Ketersediaan sumber daya termasuk sumber daya manusia bidang kesehatan dan peralatan pendukung untuk penanganan COVID-19 juga menjadi penting dan harus dipastikan memadai.
Menurut Herawati, kunci kesuksesan penanganan COVID-19 sekarang ini adalah koordinasi yang baik dari beberapa aspek, tidak bisa berdiri sendiri.
Penanganan medis dan non medis harus bekerja menyeluruh dan kolaboratif. Sumber daya dari seluruh pihak lintas institusi dan bidang menjadi kekuatan untuk mengatasi COVID-19.
Baca juga: RS Diponegoro Semarang sediakan "drive thru" tes "swab" COVID-19
Baca juga: Kudus masih kesulitan sediakan masker bedah dan VTM
Baca juga: Bayi baru lahir di Jepara jalani tes swab COVID-19
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor : Achmad Zaenal M
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
19 SPPG di Pekalongan siap salurkan Makan Bergizi Gratis bagi 56 ribu penerima
23 October 2025 13:16 WIB
Terpopuler - Kesehatan
Lihat Juga
RSGM Soelastri edukasi soal penanganan pasien lewat seminar Painless Dentistry
21 January 2026 22:19 WIB
Diabetes melitus dominasi penyakit peserta skrining kesehatan di BPJS Semarang
15 January 2026 19:43 WIB