Hari Anak Internasional, siswa Indonesia-China main angklung bersama
Minggu, 2 Juni 2019 8:51 WIB
Para siswa SMA Negeri 39 Beijing, Jumat (31/5/2019) yang berasal dari Indonesia berkolaborasi dengan siswa China memainkan alat musik tradisional angklung untuk menyambut Hari Anak Internasional. Mereka membawakan instrumentalia Tanah Airku ciptaan Ibu Sud. ANTARA FOTO/M. Irfan Ilmie/19
Beijing (ANTARA) - Para siswa SMA Negeri 39 Beijing dari Indonesia dan China berkolaborasi memainkan angklung pada peringatan Hari Anak Internasional.
"Pada peringatan Hari Anak tahun ini agak berbeda dengan sebelum-sebelumnya," kata Wakil Kepala SMA Negeri 39 Zuo Fulin kepada Antara, Sabtu.
Sehari menjelang peringatan Hari Anak Internasional yang jatuh setiap 1 Juni, sekolah menengah yang berlokasi di kawasan Zhongnanhai itu menggelar festival seni.
Namun pada pergelaran Jumat (31/5) itu ada yang spesial, karena murid-murid lokal mendapat kesempatan memainkan alat musik tradisional khas Sunda bersama teman-temannya dari Indonesia.
Sekelompok pemain angklung yang terdiri dari tujuh pelajar asal Indonesia dan empat dari China menyuguhkan instrumentalia lagu "Tanah Airku" karya Ibu Sud.
Dalam pementasan tersebut, siswa-siswi Indonesia mengenakan pakaian batik, sedangkan rekan-rekannya dari China mengenakan seragam hitam-putih.
Penampilan yang dipandu seorang guru yang pernah belajar di Indonesia itu memukau sedikitnya 200 murid dan guru SMA Negeri 39 yang memadati aula tempat pertunjukan tersebut.
Wakil Kepala SMA Negeri 39 Beijing Zuo Fulin membagikan piagam penghargaan kepada para siswa dari Indonesia seusai mementaskan alat musik angklung. (M. Irfan Ilmie)
"Kami terus berupaya mengenalkan budaya Indonesia kepada para siswa kami dari mana pun berada," kata Zuo.
Pada tahun lalu, pihaknya mengundang seorang guru dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta untuk mengajar tari jaipong.
"Kalau kesenian angklung, setiap tahun selalu dipentaskan. Apalagi kami baru mendapatkan seperangkat angklung baru dari KBRI Beijing," ujarnya menambahkan.
Sekolah yang tidak jauh dari pusat pemerintahan China dan objek wisata Kota Terlarang yang berdiri pada era Dinasti Qing itu memiliki 800 murid dari China, Indonesia, Thailand, Korea Selatan, Jepang, Kongo, dan Argentina.
"Sejak 2004 kami mulai kedatangan siswa dari Indonesia. Sampai sekarang sudah seratusan lebih lulusan kami yang berasal dari Indonesia," kata Zuo.
Baca juga: Jelajah Nusantara rambah Beijing
Baca juga: Opor ayam menu utama buka puasa perdana KBRI Beijing
"Pada peringatan Hari Anak tahun ini agak berbeda dengan sebelum-sebelumnya," kata Wakil Kepala SMA Negeri 39 Zuo Fulin kepada Antara, Sabtu.
Sehari menjelang peringatan Hari Anak Internasional yang jatuh setiap 1 Juni, sekolah menengah yang berlokasi di kawasan Zhongnanhai itu menggelar festival seni.
Namun pada pergelaran Jumat (31/5) itu ada yang spesial, karena murid-murid lokal mendapat kesempatan memainkan alat musik tradisional khas Sunda bersama teman-temannya dari Indonesia.
Sekelompok pemain angklung yang terdiri dari tujuh pelajar asal Indonesia dan empat dari China menyuguhkan instrumentalia lagu "Tanah Airku" karya Ibu Sud.
Dalam pementasan tersebut, siswa-siswi Indonesia mengenakan pakaian batik, sedangkan rekan-rekannya dari China mengenakan seragam hitam-putih.
Penampilan yang dipandu seorang guru yang pernah belajar di Indonesia itu memukau sedikitnya 200 murid dan guru SMA Negeri 39 yang memadati aula tempat pertunjukan tersebut.
Wakil Kepala SMA Negeri 39 Beijing Zuo Fulin membagikan piagam penghargaan kepada para siswa dari Indonesia seusai mementaskan alat musik angklung. (M. Irfan Ilmie)
"Kami terus berupaya mengenalkan budaya Indonesia kepada para siswa kami dari mana pun berada," kata Zuo.
Pada tahun lalu, pihaknya mengundang seorang guru dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta untuk mengajar tari jaipong.
"Kalau kesenian angklung, setiap tahun selalu dipentaskan. Apalagi kami baru mendapatkan seperangkat angklung baru dari KBRI Beijing," ujarnya menambahkan.
Sekolah yang tidak jauh dari pusat pemerintahan China dan objek wisata Kota Terlarang yang berdiri pada era Dinasti Qing itu memiliki 800 murid dari China, Indonesia, Thailand, Korea Selatan, Jepang, Kongo, dan Argentina.
"Sejak 2004 kami mulai kedatangan siswa dari Indonesia. Sampai sekarang sudah seratusan lebih lulusan kami yang berasal dari Indonesia," kata Zuo.
Baca juga: Jelajah Nusantara rambah Beijing
Baca juga: Opor ayam menu utama buka puasa perdana KBRI Beijing
Pewarta : M. Irfan Ilmie
Editor : Edhy Susilo
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Sosialisasi parenting mahasiswa KKN-Dik FKIP UMS dorong sinergi orang tua dan sekolah dalam mendidik anak
12 February 2026 18:07 WIB
UMS lahirkan Doktor baru, gagas media IPAS Hybrid Profetik untuk asah daya kritis anak SD
10 February 2026 17:52 WIB
UMS perkuat identitas budaya anak Indonesia di SB Pelita Ilmu Kuala Lumpur lewat kegiatan KKN
08 February 2026 15:36 WIB
DPR nilai insiden siswa di NTT menjadi alarm serius pemenuhan hak pendidikan anak
04 February 2026 8:52 WIB
Polisi gelar pelayanan kesehatan gratis dan pemulihan trauma anak-anak korban banjir Purbalingga
25 January 2026 10:34 WIB
Terpopuler - Seni dan Budaya
Lihat Juga
Balefest 2025 Suarasa Balekambang siap hibur masyarakat pada pergantian tahun
08 December 2025 19:39 WIB
Kaligrafi China dan Arab berpadu dalam pameran Tiongkok-Indonesia di Banyumas
25 November 2025 14:41 WIB