
Mahasiswa Ners Unsoed Didorong Siap Kerja di Jerman

Talkshow ini menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran dan perencanaan karier sejak dini
Purwokerto (ANTARA) - Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto menyelenggarakan talkshow bertema “Career Opportunities for Nurses in Germany” guna memperluas wawasan serta kesiapan mahasiswa profesi ners menghadapi peluang studi dan karier keperawatan di kancah global, khususnya di Jerman.
Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Unsoed Prof Yunita Sari SKep Ns MHS PhD mengatakan peluang kerja perawat di tingkat global terbuka luas, namun harus diiringi kesiapan kompetensi, penguasaan bahasa asing, dan kemampuan adaptasi budaya.
“Talkshow ini menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran dan perencanaan karier sejak dini,” katanya saat membuka kegiatan tersebut, Selasa (10/2).
Ia menegaskan fakultas berkomitmen mendukung mahasiswa dalam merancang karier internasional secara terarah dan berkelanjutan melalui penguatan kapasitas akademik dan nonakademik.
Sesi utama menghadirkan praktisi keperawatan, penulis, dan pendidik asal Jerman, Benedikt Schneider, yang saat ini berprofesi sebagai perawat profesional di University Medical Center Freiburg.
Dalam pemaparannya, dia menjelaskan sistem pendidikan dan jalur karier perawat di Jerman berbasis dual system, yakni kombinasi pembelajaran teori di sekolah keperawatan dan praktik langsung di fasilitas layanan kesehatan.
Menurut dia, model tersebut memungkinkan peserta pendidikan memperoleh keseimbangan antara penguasaan ilmu dan pengalaman klinik.
Sejak tahun pertama pendidikan, peserta sudah menerima gaji sekitar 1.300-1.500 euro per bulan, dan setelah lulus serta melewati ujian negara sebagai Pflegefachfrau atau Pflegefachmann, pendapatan dapat meningkat hingga 3.500-4.000 euro per bulan.
Baca juga: Unsoed selesaikan Gedung IME, dukung penambahan dokter spesialis
Ia juga memaparkan peluang karier lulusan keperawatan di Jerman yang terbuka di berbagai sektor, mulai dari rumah sakit, panti lansia, klinik, hingga institusi pendidikan, dengan pilihan spesialisasi seperti keperawatan intensif, pediatri, dan geriatri, serta kesempatan melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi.
Selain prospek karier, sistem perlindungan ketenagakerjaan, jaminan asuransi, keseimbangan waktu kerja dan kehidupan pribadi, serta fleksibilitas lokasi kerja menjadi daya tarik tersendiri.
Terkait persiapan perawat internasional, dia menekankan pentingnya penguasaan bahasa Jerman minimal level B2, kelengkapan dokumen akademik, kepemilikan Surat Tanda Registrasi, serta kesiapan beradaptasi dengan budaya kerja.
Tersedia pula dukungan komprehensif bagi calon perawat internasional, mulai dari pelatihan bahasa A1–B2, pendampingan dokumen dan visa, fasilitasi wawancara dan penempatan kerja, orientasi pra-keberangkatan, hingga pendampingan integrasi, termasuk peluang subsidi hingga sekitar 9.700 euro.
Talkshow berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab, dengan mahasiswa memanfaatkan forum tersebut untuk menggali strategi penguatan bahasa, penyesuaian budaya kerja, dan perencanaan karier pascapenempatan di luar negeri.
Baca juga: Pakar Unsoed: Polri di bawah Presiden harus profesional dan humanis
Baca juga: Akademisi Unsoed: Kuatkan destana di sekitar Gunung Slamet untuk hadapi ancaman bencana
Pewarta: KSM
Editor:
Sumarwoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
