Logo Header Antaranews Jateng

Warga lereng Sumbing menggelar tradisi srobong gobang

Jumat, 30 Januari 2026 15:20 WIB
Image Print
Kepala Desa Tlilir, Kecamatan Tlogomulyo, Faturohman menggelar tradisi jamasan srobong gobang di saksikan oleh warga setempat di Temanggung, Jumat (30/1/2026). ANTARA/Heru Suyitno

Temanggung (ANTARA) - Warga lereng Gunung Sumbing di Desa Tlilir, Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung menggelar tradisi nyadran dan srobong gobang atau alat untuk memotong tembakau.

Kepala Desa Tlilir, Faturohman di Temanggung, Jumat, mengatakan nyadran dan jamasan (mencuci) srobong gobang sebagai tradisi yang rutin dilakukan setiap tahun, sebagai momentum penting bagi masyarakat untuk membersihkan diri sekaligus menyingkirkan hal-hal negatif, baik secara lahir maupun batin.

Dikatakan, dalam prosesi yang berlangsung sejak pagi warga berkumpul di kantor desa sebagai titik awal kegiatan. Dari sana masyarakat berjalan bersama mengelilingi dusun sebelum akhirnya menuju lokasi pemakaman umum.

Sebelum berangkat ke pemakaman umum, para tokoh masyarakat mencuci srobong gobang atau alat untuk memotong tembakau.

"Prosesi dilakukan secara gotong royong, mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan yang masih terjaga hingga kini," kata dia.

Setelah sampai di makam, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama, tahlilan, dan pengiriman doa untuk para leluhur yang telah meninggal dunia.

Dikatakan, tradisi nyadran bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sarana memperkuat ikatan sosial warga.

"Melalui kegiatan ini, kita bisa melihat kekompakan dan gotong royong masyarakat. Kami selalu mengedepankan kebersamaan. Ketika kita bersatu, semua terasa lebih ringan karena dijalani bersama-sama,” katanya.

Menurut dia, tradisi ini juga menjadi pembelajaran sosial bagi warga, khususnya generasi muda, tentang arti persatuan dan rasa memiliki terhadap desa.

"Harapannya masyarakat bisa merasakan satu rasa dan satu tujuan. Dari sinilah nilai kebersamaan itu tumbuh dan terus diwariskan," katanya.

Tradisi nyadran srobong gobang pun menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih hidup, menjaga harmoni antara manusia, alam, dan nilai spiritual yang diwariskan turun-temurun.

Baca juga: Warga lereng Sumbing gelar "merti dusun" untuk galang persatuan



Pewarta :
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026