
Pameran puluhan pusaka se-Nusantara di Semarang

Semarang (ANTARA) - Puluhan pusaka dari berbagai daerah di nusantara dipamerkan dalam Pameran Pusaka Nasional "Keris re(imagined): Napas Baru Warisan Leluhur" yang berlangsung di Hotel Front One HK Semarang.
Ketua panitia pameran Ridwan Maulana Yasifun, di Semarang, Jumat, menjelaskan bahwa pameran yang dimotori dua paguyuban di Kota dan Kabupaten Semarang itu berlangsung mulai 13-15 Februari 2026.
"Ada 61 bilah pusaka berasal dari seluruh Indonesia. Juga dari berbagai masa, yang paling tua ada dari masa Medang dan yang terbaru baru berapa bulan jadi pun ada. Jadi, dari masa yang sangat panjang," katanya.
Menurut dia, pameran tersebut ditujukan tentunya untuk mengenalkan keris dan pusaka nusantara, khususnya kepada generasi muda sehingga muncul kecintaan terhadap pelestariannya.
Ia mengatakan pameran tersebut memang agak berbeda dibandingkan pameran tosan aji atau pusaka yang pernah digelar di beberapa tempat lain, misalnya warna latar belakang yang dulu dominan merah kini berganti navy.
"Itu supaya me-'refresh' pemahaman pencitraan kita, alam pikir kita tentang konsep pameran pusaka. Juga tujuan kami adalah untuk menarik generasi muda. Generasi yang belum mengerti atau mencintai pusaka," katanya.
Tidak hanya memamerkan pusaka, beragam kegiatan juga dilakukan, seperti bursa jual-beli keris yang diikuti para pecinta keris dan tosan aji.
Ia mengatakan berbagai kegiatan lain juga digelar sebagai sarana edukasi, seperti peluncuran buku, diskusi atau sarasehan tentang siraman atau jamasan pusaka Mentaraman.
"Tujuannya membedah tata cara dan makna yang ada di keraton-keraton bekas kekuasaan Mataram yang sekarang disebut sebagai Catur Saputra. Ternyata, itu beda-beda dan beda maknanya," katanya.
Pada hari terakhir pameran, kata dia, digelar pula lomba menggambar dan mewarnai untuk anak-anak sebagai bentuk upaya mengajak dan mengenalkan pusaka kepada generasi muda sedini mungkin.
Sementara itu, General Manager Hotel Front One HK Semarang Doni Avianto menjelaskan bahwa pameran tersebut sebenarnya realisasi dari agenda yang sempat tertunda.
Ia menjelaskan dua paguyuban di Kota dan Kabupaten Semarang memiliki kekuatan yang saling melengkapi dalam penyelenggaraan pameran tersebut.
"Kalau di Semarang lebih kuat di bisnis klitikan atau bursanya, sedangkan di kabupaten Semarang ke pendidikan keris. Kebetulan, ketemu empunya juga," katanya.
Menurut dia, persiapan untuk pameran pusaka tersebut dilakukan setidaknya sejak tiga bulan lalu, dengan konsep yang berbeda dengan pameran biasanya.
"Di sini, orang jadi tahu bagaimana pembuatan keris? Kenapa keris mahal? Dipraktekkan empu masih yang muda, ada pembelajaran. Ada juga bursa yang nilai penjualannya fantastis," pungkasnya.
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor:
Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
