Logo Header Antaranews Jateng

DPR nilai insiden siswa di NTT menjadi alarm serius pemenuhan hak pendidikan anak

Rabu, 4 Februari 2026 08:52 WIB
Image Print
Anggota Komisi VIII DPR RI Ina Ammania. ANTARA/HO-Humas DPR RI

Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi VIII DPR RI Ina Ammania menilai kasus bunuh diri siswa SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, NTT harus menjadi alarm serius bagi negara dalam menjamin perlindungan dan pemenuhan hak pendidikan anak.

“Ini harus menjadi alarm serius bagi negara. Contoh potret yang buruk bagi dunia pendidikan, termasuk hak-haknya,” katanya dikutip di Jakarta, Rabu.

Ia menyampaikan keprihatinan atas kasus siswa kelas IV SD berinisial YBS yang diduga melakukan bunuh diri karena tidak mampu membeli buku dan pena dengan harga kurang dari Rp10.000 itu.

Legislator berasal dari Daerah Pemilihan Jawa Timur III yang meliputi Banyuwangi, Bondowoso, dan Situbondo itu, menilai peristiwa tersebut seharusnya tidak terjadi apabila negara hadir memberikan perlindungan kepada anak, terutama berasal dari keluarga tidak mampu.

Ia mengingatkan bahwa negara telah mengalokasikan anggaran pendidikan dalam jumlah besar, termasuk menyediakan berbagai bantuan sosial bagi masyarakat miskin melalui sejumlah kementerian. Dengan demikian, kasus seperti itu seharusnya tidak terjadi.

Ina juga menyoroti peran Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dalam memastikan perlindungan terhadap anak-anak rentan, khususnya di daerah.

Menurut dia, evaluasi perlu dilakukan mengingat sebelumnya juga terjadi sejumlah kasus kekerasan terhadap anak di wilayah Ngada.

Ia menekankan pentingnya penelusuran akar persoalan secara menyeluruh, termasuk kondisi ekonomi keluarga dan lingkungan sosial, agar peristiwa serupa tidak terulang.

“Di sinilah peran Kementerian PPPA dituntut, bagaimana melakukan perlindungan anak sejak dini, baik dari lingkungan keluarga maupun masyarakat,” kata dia.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar memandang kasus seorang siswa SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang bunuh diri karena tidak mampu membeli buku dan pena seharga Rp10.000, harus menjadi cambuk bagi semua pihak.

“Ya, ini harus menjadi cambuk ya,” ujar pria yang akrab disapa Cak Imin di kawasan Gambir, Jakarta, Selasa (3/2) malam.

Selain itu, dia mengatakan kasus tersebut menjadi pengingat agar semua pihak harus membuka diri untuk mudah dimintai tolong oleh siapa pun.


Baca juga: Bank Jateng dukung pendidikan ratusan anak yatim Kota Magelang



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026