Ada Tiga Jenis Beras yang Harus Diwaspadai
Senin, 25 Mei 2015 11:29 WIB
Dokumentasi sejumlah pembeli memilih beras di salah satu toko pasar beras Induk Cipinang, Jakarta, Kamis (21/5). Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) mendesak pemerintah segera menindak pelaku dan menjelaskan ke publik soal temuan beras
"Intinya ada tiga jenis beras yang harus diwaspadai, yakni beras imitasi, beras oplosan dan beras beracun plastik," katanya, di Beijing, Minggu.
Budi menuturkan beras imitasi atau beras sintetis terdiri atas pelet plastik berukuran beras, yakni plastik yang di-ekstrusi dibentuk dan berukuran seperti beras. "Beras jenis ini mudah dikenali, karena memang plastik," katanya.
Beras imitasi juga bisa terbuat dari bahan-bahan organik seperti ampas singkong, ampas kelapa, nasi akik, dan jagung, yang direkatkan dengan tepung tapioka atau tepung sagu.
"Campuran organik itu, kemudian dicetak seperti butiran beras, dan dipasarkan layaknya beras asli, dengan tingkatan warna bulir yang beragam, mulai dari putih pucat hingga kecoklatan, seperti tampilan beras merah," ungkapnya menambahkan.
Budi mengemukakan, untuk membedakan beras imitasi jenis ini dengan beras asli dapat dilihat saat beras direndam dan dimasak.
"Saat direndam beras imitasi akan larut dengan sendirinya terutama ketika diaduk buihnya akan banyak. Saat dimasak beras imitasi ini menggumpal dan berbau, selain itu bulir beras jenis ini sangat rapuh karena mudah pecah saat ditekan tangan," ujarnya.
Beras lain yang harus diwaspadai adalah beras yang dibuat bahan serupa, namun dilekatkan menggunakan bahan-bahan lem/lelehan plastik.
"Beras jenis ini mudah sekali dikenali karena saat dimasak menggumpal dan berbau lem atau plastik. Ini jelas berbahaya," tutur Budi.
Ia menambahkan jenis beras tersebut biasa digunakan sebagai alat kalibrasi bagi proses uji kualitas beras pasca panen. Beras imitasi ini, meski dibuat dari bahan ampas organik, namun dilekatkan dengan lelehan plastik atau lem, dan dibuat sebagai alat kalibrasi dengan akurasi tinggi dan mahal, sehingga tidak untuk dikonsumsi.
Selain beragam jenis beras imitasi, terdapat pula beras oplosan yakni beras asli yang dioplos dengan beras dari bahan plastik. "Ini mudah dikenali, karena beras asli akan mengendap saat direndam, dan beras plastik akan mengambang," ujar Budi.
Tak hanya itu ada pula beras beracun bahan plastik, yakni beras asli yang disiram/dilapisi bahan pembuat plastik. Biasanya beras disiram dilapisi plastik agar awet, terutama untuk pengiriman dan penyimpanan yang lebih lama. "Jelas ini tidak layak dikonsumsi," kata Budi.
Budi menuturkan beras imitasi atau beras sintetis terdiri atas pelet plastik berukuran beras, yakni plastik yang di-ekstrusi dibentuk dan berukuran seperti beras. "Beras jenis ini mudah dikenali, karena memang plastik," katanya.
Beras imitasi juga bisa terbuat dari bahan-bahan organik seperti ampas singkong, ampas kelapa, nasi akik, dan jagung, yang direkatkan dengan tepung tapioka atau tepung sagu.
"Campuran organik itu, kemudian dicetak seperti butiran beras, dan dipasarkan layaknya beras asli, dengan tingkatan warna bulir yang beragam, mulai dari putih pucat hingga kecoklatan, seperti tampilan beras merah," ungkapnya menambahkan.
Budi mengemukakan, untuk membedakan beras imitasi jenis ini dengan beras asli dapat dilihat saat beras direndam dan dimasak.
"Saat direndam beras imitasi akan larut dengan sendirinya terutama ketika diaduk buihnya akan banyak. Saat dimasak beras imitasi ini menggumpal dan berbau, selain itu bulir beras jenis ini sangat rapuh karena mudah pecah saat ditekan tangan," ujarnya.
Beras lain yang harus diwaspadai adalah beras yang dibuat bahan serupa, namun dilekatkan menggunakan bahan-bahan lem/lelehan plastik.
"Beras jenis ini mudah sekali dikenali karena saat dimasak menggumpal dan berbau lem atau plastik. Ini jelas berbahaya," tutur Budi.
Ia menambahkan jenis beras tersebut biasa digunakan sebagai alat kalibrasi bagi proses uji kualitas beras pasca panen. Beras imitasi ini, meski dibuat dari bahan ampas organik, namun dilekatkan dengan lelehan plastik atau lem, dan dibuat sebagai alat kalibrasi dengan akurasi tinggi dan mahal, sehingga tidak untuk dikonsumsi.
Selain beragam jenis beras imitasi, terdapat pula beras oplosan yakni beras asli yang dioplos dengan beras dari bahan plastik. "Ini mudah dikenali, karena beras asli akan mengendap saat direndam, dan beras plastik akan mengambang," ujar Budi.
Tak hanya itu ada pula beras beracun bahan plastik, yakni beras asli yang disiram/dilapisi bahan pembuat plastik. Biasanya beras disiram dilapisi plastik agar awet, terutama untuk pengiriman dan penyimpanan yang lebih lama. "Jelas ini tidak layak dikonsumsi," kata Budi.
Pewarta : Antaranews
Editor : Totok Marwoto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Polda Jateng minta pengusaha jasa angkutan patuhi aturan tentang truk sumbu tiga
14 March 2026 22:45 WIB
FHIP UMS raih peringkat tiga Fakultas Hukum swasta terbaik nasional versi Scimago 2026
10 March 2026 16:46 WIB
Tiga dosen FHIP UMS raih Pendanaan Penelitian Multitahun 2026 dari Kemendiktisaintek
10 March 2026 16:28 WIB
Bupati: 21 gunungan warnai hari jadi tiga abad Grobogan disertai harapan & doa
03 March 2026 14:05 WIB
Pemkot Semarang kibarkan bendera setengah tiang tiga hari kenang Try Sutrisno
02 March 2026 21:02 WIB
Terpopuler - Sains dan Rekayasa
Lihat Juga
Pangeran asal Brunei Darussalam temui Ahmad Luthfi, jajaki investasi energi terbarukan di Jateng
06 February 2026 7:55 WIB
Peneliti ungkap spesies baru Nepenthes dari Kalbar, terpantau awal via medsos
24 January 2026 14:38 WIB
Mahasiswa SV Undip olah limbah jelantah dengan ekstrak kemangi jadi biocleaner
11 November 2025 8:32 WIB
Tahun depan Pemkot Semarang siapkan bus listrik koridor Mangkang - Penggaron
06 November 2025 21:32 WIB