"Produk-produk ini tersebar di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, produk tersebut di antaranya makanan olahan, produk pertanian, batik, tenun, lurik, dan kerajinan dari berbagai bahan baku," ujarnya di Semarang, Kamis.
Menurutnya Dinkop dan UMKM terus berupaya agar jumlah produk unggulan tersebut bertambah sehingga bisa memperluas pasar pelaku usaha di Jateng.
"Kami menargetkan setiap tahunnya ada 35 produk unggulan baru dari program One Village One Product (OVOP)ini, harapan kami banyak pelaku usaha yang termotivasi," jelasnya.
Pihaknya berupaya untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas dari produk melalui OVOP ini dengan harapan masyarakat tidak kecewa dengan produk unggulan yang dimiliki Jawa Tengah.
Menurutnya setiap kabupaten/kota di Jateng harus memiliki produk unggulan yang bisa dipasarkan sehingga pasar luar daerah maupun luar negeri tahu dan kenal berbagai daerah yang ada di Jawa Tengah.
"Oleh karena itu kami terus mendorong pertumbuhan OVOP ini agar pemberdayaan dan penguatan ekonomi masyarakat semakin baik," jelasnya.
Sudjarwanto mengatakan Dinkop dan UMKM terus melakukan pemberdayaan terkait keberadaan produk unggulan ini di antaranya memberikan pinjaman modal bagi pelaku usaha, membuka akses pasar ke luar daerah, memfasilitasi penjualan melalui pameran, dan memberikan pelatihan.
"Kami berupaya agar pengusaha terutama pelaku usaha kecil ini tidak kaget dalam menghadapi ekonomi global," tukasnya.

