
Trifena, Wakili Perempuan dan Masyarakat Tionghoa

"Sebenarnya, ada beberapa (keturunan Tionghoa, red.) yang maju. Kalau ada yang lain yang mau maju, ya yang lain saja, saya tidak maju. Sepertinya hanya saya jadi," kata perempuan berparas ayu itu, di Semarang, Rabu.
Perempuan kelahiran Semarang, 15 April 1973 itu, disebut sebagai salah satu caleg terpilih DPRD Kota Semarang saat penetapan perolehan kursi dan caleg terpilih oleh komisi pemilihan umum setempat.
Sebagai wakil rakyat kelak, ibu satu anak itu menyadari tanggung jawabnya yang berat memegang amanah rakyat, apalagi sebagai satu-satunya wakil dari komunitas masyarakat keturunan Tionghoa di Semarang.
Keberaniannya maju ke kursi legislatif, diakuinya, di samping karena dorongan dari beberapa orang, termasuk keluarga, juga untuk mendorong semakin banyak warga keturunan Tionghoa atau kaum minoritas aktif berpolitik.
"Selain itu, terus terang saya ini prihatin dengan penanganan rob dan banjir, terutama di daerah pemilihan saya," kata Trifena yang maju dari Dapil Semarang II, meliputi Semarang Tengah, Timur, dan Utara itu.
Melihat sosok Trifena, perempuan berwajah kental oriental yang mengaku PDI Perjuangan sudah menjadi "darahnya" itu, tampak jauh lebih muda dan segar dari usianya yang sebenarnya sudah menginjak kepala empat.
Ia pun mengaku kerap dikira masih anak "kuliahan" karena wajahnya yang awet muda, yang dinilainya ada sisi positif dan negatif tersendiri, terutama saat musim kampanye karena bisa saja diremehkan masyarakat.
"Ya, mungkin saja ada yang meremehkan. Dikira baru lulus kuliah, gampang dibohongi kalau jadi dewan. Positifnya, jadi pilihan anak muda," katanya tertawa, seraya membocorkan resep awet mudanya hanya jeruk nipis.
Hampir setiap hari di waktu senggangnya, Trifena selalu menyempatkan membalurkan jeruk nipis ke wajah dan tubuhnya untuk menjaga kesehatan dan kecantikan kulitnya, di samping rutin mengonsumsi jamu tradisional.
Trifena pun menceritakan pengalaman lucu di suatu pertemuan yang dihadiri Wali Kota Semarang sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Semarang Hendrar Prihadi yang ketika itu mengiranya masih anak SMA.
"Sambil 'guyon', Pak Hendi (sapaan akrab Hendrar Prihadi, red.) bilang 'masih SMA kok mau nyalon (maju caleg)'. Padahal, usia beliau dengan saya hanya selisih dua tahun," kata Trifena sembari tertawa.
Pewarta: -
Editor:
Zuhdiar Laeis
COPYRIGHT © ANTARA 2026
