
Kirab Air Hujan, Warga Merapi Rayakan Natal
.jpg)
Kegiatan kirab budaya dalam rangka perayaan Natal di lereng Gunung Merapi tersebut diikuti perwakilan dari tokoh lintas agama desa setempat yakni umat Islam, Hindu, Kristen, dan Katolik yang dipimpin oleh Romo Kirdjito Pastur Gereja Paroki Santo Paulus Kebonarum Klaten.
Bahkan, peserta kirab sebelum diberangkatkan mengelilingi desa setempat atau sejauh sekitar satu kilometer tersebut sebelumnya diawali dengan doa yang pertama menurut ajaran Hindu, kemudian Islam dan yang terakhir Katolik.
Kiran budaya perayaan Natal diawali dengan seekor kerbau dan diikuti sejumlah tokoh masyarakat, dua gunungan yakni hasil bumi dan botol plastik yang berisi air hujan, dan sejumlah seni budaya rakyat lereng Merapi.
Menurut Romo Kirdjito, kirab budaya dalam perayaan Natal tahun ini, dengan tema "Ngunduh Bayu Udan" (mengambil air hujan) tersebut merupakan kenikmatan dari Tuhan Yang Maha Esa harus disyukuri dengan memetik melalui alam.
"Air hujan yang diberikan kepada masyarakat Lereng Merapi untuk kebutuhan sehari-hari sejak puluhan tahun yang lalu harus disyukuri dengan mengisi ke dalam botol plastik yang tertutup," kata Kirdjito.
Pada perayaan Natal kali ini, kata Kirdjito, mereka harus menghargai, menghormati, menyayangi, mengangkat masyarakat di lereng Gunung Merapi timur, khususnya Kemalang Klaten dan Boyolali, yang sudah berpuluh-puluh tahun menggunakan air hujan untuk memenuhi kehidupan mereka. Masyarakat Merapi sebelum sudah melakukan memanfaatkan air hujan ke dalam bak tandon.
Namun, kata Kirdjito, kali ini dengan kebaikan Tuhan tersebut masyarakat diajak menampung dengan air hujan lebih bagus dengan memasukkan ke botol-botol plastik yang tertutup khusus untuk keperluan minum dan masak.
"Hal ini, dengan tujuan supaya mendapatkan air yang bersih dan tidak ragu-ragu untuk kebutuhan sehari-hari. Kita tunjukkan kepada siapapun air hujan itu sangat berarti bagi masyarakat Merapi," kata Kirdjito.
Sementara masyarakat dalam perayaan Natal di Desa Tangkil tersebut menghiasi sejumlah dinding gereja dengan ribuan botol plastik berwarna-warni, sehingga cukup meriah.
Bahkan, dua pohon Natal dengan ukuran raksasa yang berdiri menghiasi luar Gereja Santo Petrus Paulus Surowono Tangkil, dibuat khusus dengan ribuan botol plastik berisi air hujan.
Romo Kirdjito menambahkan, ribuan botol plastik yang berisi air hujan yang jernih tersebut setelah didoakan menurut Agama Hindu, Islam dan Katolik, akan dibawa pulang oleh masyarakat ke rumah masing-masing untuk disimpan kebutuhan air minum.
"Ini cara baru untuk memanfaatkan air hujan yang lebih baik untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat lereng Merapi," kata Romo Kirdjito.
Pewarta: Bambang Dwi Marwoto
Editor:
Zuhdiar Laeis
COPYRIGHT © ANTARA 2026
.jpg)