Logo Header Antaranews Jateng

Petani Cilacap Jual Bongkahan Tanah Kering

Selasa, 31 Juli 2012 14:37 WIB
Image Print
Ilustrasi sawah yang mengering di puncak musik kemarau

Dari pantauan, Selasa, belasan orang tampak menaikkan bongkahan tanah ke dalam tiga truk yang terparkir di tengah persawahan Desa Brani, Kecamatan Sampang, Cilacap, yang berbatasan dengan persawahan Desa Cindaga, Kecamatan Kebasen, Banyumas.

"Bongkahan tanah ini saya jual karena tidak bisa ditanami apa-apa akibat kekeringan," kata Sarkoni (45), petani di Desa Brani.

Menurut dia, puluhan hektare sawah di Desa Brani mengalami kekeringan sehingga tanahnya retak-retak dan tidak mungkin bisa ditanami palawija lantaran tak ada sumber air.

"Kalau sawah di barat jalan itu masih bisa ditanami palawija karena posisinya lebih rendah dari sini dan bisa dibuatkan sumur untuk menyiram tanaman," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, para petani menjual bongkahan tanah sawah yang kekeringan guna mencukupi kebutuhan keluarga.

Menurut dia, bongkahan tanah-tanah tersebut dijual kepada perajin batu bata dengan harga Rp40 ribu per mobil bak terbuka dan Rp70 ribu jika menggunakan truk.

"Lumayan kalau bongkahan tanah ini dijual karena saya tidak mendapatkan hasil pada musim kemarau sekarang ini," katanya.

Secara terpisah, petani di Desa Menganti, Kecamatan Rawalo, Banyumas, Darikun (53), mengatakan bahwa harga tanah sawah kering yang telah dihaluskan jauh lebih tinggi daripada kalau dijual bongkahan.

"Kalau sudah dihaluskan, harganya bisa mencapai Rp330 ribu per truk," katanya.

Dalam sehari, kata dia, 10 orang petani hanya bisa menghasilkan tanah halus sebanyak satu truk.

Menurut dia, tanah sawah kering yang telah dihaluskan tersebut dijual kepada perajin genting.

"Hasil penjualannya dibagi untuk 10 orang," katanya.



Pewarta:
Editor: Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2026