
Senator dorong intervensi khusus ketahanan pangan Jateng selatan

Purwokerto (ANTARA) - Anggota DPD RI (senator) Abdul Kholik mendorong adanya intervensi khusus dari pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan di wilayah Jawa Tengah bagian selatan (Jasela) menyusul berbagai tantangan yang dihadapi sektor pertanian dan perikanan di kawasan tersebut.
"Kita semakin memperkuat bahwa kebutuhan untuk adanya kawasan khusus penyangga pangan dengan segala kebutuhan intervensinya memang sangat dibutuhkan," katanya usai Diskusi Kelompok Terpumpun bertajuk Kebijakan dan Strategi Pengembangan Potensi Pertanian dan Perikanan untuk Mewujudkan Kemandirian Pangan di Wilayah Barlingmascakeb dan Purwomanggung (Jasela) di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Selasa sore.
Ia mengatakan diskusi yang melibatkan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) dari wilayah Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyuwangi, Cilacap, dan Kebumen) dan Purwomanggung (Purworejo, Wonosobo, Magelang, dan Temanggung) tersebut digelar untuk menghimpun data, informasi, serta memetakan potensi dan persoalan sektor pangan di kawasan selatan Jawa Tengah.
Dari hasil diskusi itu, kata dia, terkonfirmasi bahwa kawasan Jasela memiliki potensi agro yang sangat besar dengan berbagai komoditas unggulan, mulai dari padi, jagung, hingga hortikultura.
“Namun tren produksi sebagian besar komoditas tersebut justru menunjukkan penurunan, sementara sejumlah komoditas lainnya mengalami fluktuasi,” katanya.
Menurut dia, penurunan itu dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari memburuknya kondisi infrastruktur pertanian, minimnya regenerasi sumber daya manusia di sektor pangan, hingga pemanfaatan teknologi yang masih terbatas dan belum optimal.
Selain itu, lanjut dia, akses pasar serta kolaborasi antarwilayah juga dinilai belum berjalan maksimal, padahal setiap daerah memiliki potensi yang dapat saling melengkapi dalam mendukung kemandirian pangan kawasan.
Ia mengatakan persoalan infrastruktur air menjadi salah satu ancaman serius bagi keberlanjutan sektor pangan di kawasan tersebut karena berdasarkan paparan dalam forum, tiga waduk besar di wilayah selatan Jawa Tengah, yakni Waduk Mrica, Sempor, dan Wadaslintang, disebut dalam kondisi kritis.
Ia mengatakan sedimentasi yang terus terjadi telah mengurangi kapasitas tampung waduk, bahkan salah satu waduk disebut hanya menyisakan kapasitas efektif sekitar 10 persen.
Menurut dia, kondisi tersebut tidak hanya mengancam suplai air untuk pertanian, juga berpotensi memicu bencana apabila tidak segera ditangani.
"Kalau tidak ada intervensi-intervensi yang sangat kuat, tren penurunan ini akan menjadi ancaman nyata untuk kondisi pangan kita ke depan," katanya.
Ia menegaskan intervensi yang dibutuhkan tidak hanya berupa perbaikan infrastruktur irigasi dan waduk, juga penguatan akses teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembukaan akses pasar, serta penguatan kolaborasi antardaerah.
Menurut dia, hasil diskusi bersama pemerintah daerah, akademisi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, dan Bank Indonesia (BI) Purwokerto itu selanjutnya akan dirumuskan menjadi kajian komprehensif sebagai bahan rekomendasi kebijakan pengembangan kawasan khusus penyangga pangan di wilayah selatan Jawa Tengah.
"Kita sedang proses dengan pendekatan teknokratis, birokratis, dan multi-stakeholder agar nanti menjadi bahan transformasi kebijakan ke depan," katanya.
Kholik mengatakan gagasan pembentukan kawasan khusus penyangga pangan sejauh ini mendapat respons positif dari berbagai pihak termasuk sejumlah kementerian dan diharapkan dapat menjadi langkah strategis untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus memperkuat posisi Jawa Tengah selatan sebagai salah satu penopang pangan nasional.
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Immanuel Citra Senjaya
COPYRIGHT © ANTARA 2026
