
Wali kota: Tanamkan cerita Gunung Tidar kepada generasi muda

Magelang (ANTARA) - Wali Kota Magelang Damar Prasetyono mengemukakan pentingnya cerita tentang Gunung Tidar, termasuk makna filosofinya, disampaikan secara terus-menerus agar tertanam kepada generasi muda sebagai pewaris nilai-nilai luhur budaya bangsa.
"Jaga nilai-nilai leluhur, teruskan cerita dan filosofi Gunung Tidar, dan tanamkan kepada generasi muda," katanya dalam rilis Bagian Prokompim Pemkot Magelang di Magelang, Kamis.
Ia mengatakan hal itu pada acara pengukuhan Imam Budi Prasetyo sebagai Juru Kunci IV Gunung Tidar Kota Magelang, menggantikan ibunya, Sutijah, yang berpulang sekitar dua bulan lalu. Pada acara secara adat setempat di area parkiran atas Gunung Tidar itu, hadir antara lain para sesepuh, tokoh masyarakat, serta warga setempat.
Pemkot Magelang berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan para juru kunci, tokoh masyarakat, dan sesepuh dalam hal edukasi, pelestarian, dan penataan kawasan Gunung Tidar.
"Saya titip agar amanah ini dapat anda emban dengan tulus, sabar, dan bijaksana," ujar dia.
Posisi juru kunci, kata dia, mempunyai peran penting menyangkut pelestarian budaya sekaligus kelestarian lingkungan Gunung Tidar.
Ia menjelaskan Gunung Tidar dengan julukan "Paku Tanah Jawa" memegang dua peran sekaligus, yakni warisan budaya dan warisan alam.
Sebagai warisan budaya, katanya, Gunung Tidar menjadi pusat spiritualitas, mengandung situs-situs sejarah, dan bagian penting dari identitas Kota Magelang.
Sebagai warisan alam, ujar dia, Gunung Tidar berfungsi layaknya kebun raya dan paru-paru kota. Kawasan ini juga menjadi resapan air dan habitat flora serta fauna yang menjaga keseimbangan ekosistem.
“Gunung Tidar adalah amanah besar. Amanah ini bukan hanya saya titipkan kepada juru kunci, tetapi juga kepada seluruh masyarakat Kota Magelang,” katanya.
Juru Kunci IV Gunung Tidar Kota Magelang Imam Budi Prasetyo menyatakan kesediaan meneruskan jejak leluhur sebagai penjaga tradisi serta pelestari alam di "jantung" Kota Magelang itu.
Sebagai pewaris garis keluarga, ia mengaku memahami tanggung jawab itu harus segera diambil, setelah ibunya berpulang. Dari empat bersaudara, Imam sebagai anak kedua, namun satu-satunya kandidat yang memenuhi syarat.
"Saya bukan anak paling tua, tapi juru kunci harus laki-laki. Kakak saya yang pertama perempuan, jadi enggak bisa. Dari (Keraton) Solo bilangnya tetap saya yang harus menggantikan," katanya.
Pewarta: M. Hari Atmoko
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
