Solo (ANTARA) - Kita hidup di zaman yang penuh paradoks. Di satu sisi, kemajuan sains dan teknologi bergerak dengan kecepatan tak terbayangkan, membuka kemungkinan baru yang sebelumnya hanya ada dalam fiksi ilmiah.
Kecerdasan buatan, rekayasa genetika, dan konektivitas global menjadi palu godam kemajuan. Namun di sisi lain, kita dihadapkan pada krisis integrasi yang mendalam. Teknologi seringkali berjalan lebih cepat dari etika, ilmu pengetahuan terkotak dalam disiplin yang kaku, dan nilai-nilai kemanusiaan tergerus oleh pragmatisme pasar.
Inilah jalan buntu peradaban modern, kita memiliki jawaban untuk pertanyaan teknis, tetapi bingung menjawab pertanyaan mendasar tentang arah tujuan kita bersama.
Di tengah kebisingan fragmentasi ini, universitas dan akademia memiliki tanggung jawab historis untuk menjadi penjembatan. Mereka harus menjadi ruang di mana sains tidak hanya bertanya "bisakah kita melakukannya?", tetapi juga "haruskah kita melakukannya?". Di mana teknologi tidak diukur hanya dari efisiensinya, tetapi juga dari dampaknya terhadap keadilan sosial. Di mana diskursus ilmiah tidak lepas dari keprihatinan kemanusiaan.
Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) merespons tanggung jawab historis ini dengan sebuah ikhtiar peradaban yang konkret, menyelenggarakan International Summit on Science, Technology and Humanity (ISETH) 2025.
Dengan mengusung tema "Strategic Roles of University and Academia in Supporting Country Development", summit yang digelar pada 10 Desember lalu menjadi wujud nyata bagaimana sebuah kampus dapat secara proaktif menjawab tantangan global tersebut.
Acara ini bukan sekadar serangkaian presentasi, melainkan juga sebuah ekosistem kolaboratif yang terwujud nyata. Hal ini terbukti dari lingkupnya yang menaungi 16 sub-konferensi lintas fakultas, meruntuhkan tembok disiplin ilmu. Reputasi UMS sebagai pusat keilmuan inklusif tercermin dari 865 makalah yang dipresentasikan, menunjukkan kepercayaan luas dari para peneliti. Yang paling membanggakan, kehadiran 33 negara dari lima benua menegaskan bahwa ISETH telah menjadi gelanggang ilmiah global yang disegani, sebuah bukti bahwa isu integrasi sains, teknologi, dan kemanusiaan adalah concern universal.
Bersama para pembicara kunci seperti Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Dr. Mohd Azizuddin Mohd Sani dari Universiti Utara Malaysia, dan Prof. Bambang Setiaji dari Badan Pendidikan dan Penelitian Perguruan Tinggi Muhammadiyah, UMS memfasilitasi perumusan mengenai bagaimana perguruan tinggi dapat menjadi motor penggerak pembangunan yang berkelanjutan dan beradab.
Melalui ISETH 2025, UMS tidak hanya menyelenggarakan sebuah konferensi. UMS menawarkan sebuah jawaban, bahwa di tengah krisis integrasi global, sinergi antara sains, teknologi, dan kemanusiaan, digenapi oleh keberanian untuk lintas disiplin, bukanlah idealisme semata, melainkan sebuah kebutuhan mutlak.
Ini adalah kontribusi UMS untuk membangun masa depan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berbudi.
*Prof. Dr. Sarjito. Coference Chair Of the 11 th Iseth 2025
Direktur Direktorat Riset Pengabdian Kepada Masyarakat, Publikasi, dan Sentra Kekayaan Intelektual

