Logo Header Antaranews Jateng

Pria Bersenjata Tembak Awak TV Al-Jadeed

Selasa, 10 April 2012 11:53 WIB
Image Print
Kamerawan TV Lebanon Al-Jadeed Ali Shaaban (Sumber: www.yourmiddleeast.com/AFP: Anwar Amro)

SANA, dengan mengutip satu sumber media tanpa nama, melaporkan awak TV itu ditembaki ketika "beberapa kelompok pelaku teror yang bersenjata" menyerang penjaga perbatasan Suriah. Ditambahkannya, penjaga perbatasan melepaskan tembakan balasan.

Kota kecil perbatasan Wadi Khaled, tempat penembakan berlangsung, telah menghadapi upaya penyusupan yang berulangkali oleh pria bersenjata dan penjaga perbatasan Suriah menjadi sasaran penembakan dari kelompok bersenjata.

Juru kamera TV Al-Jadeed Ali Shaaban tewas dalam penembakan Senin di Wadi Khaled, sementara dua rekannya selamat tanpa cedera.

Jaringan televisi tersebut menyatakan awaknya berada di daerah itu untuk membuat film mengenai satu laporan tentang situasi di daerah perbatasan tegang, dan menuduh tentara Suriah melepaskan tembakan ke arah tim tersebut.

"Ali Shaaban menjadi syahid setelah tentara Suriah melepaskan tembakan ke arah mobil Al-Jadeed," kata saluran itu sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Selasa pagi.

Peristiwa Senin menunjukkan konflik Suriah merembet ke seberang perbatasan. Dalam peristiwa serupa Senin, dua warga negara Suriah tewas dan sedikitnya 19 orang lagi, termasuk dua orang yang berkebangsaan Turki, cedera dalam beberapa bentrokan dengan pasukan keamanan Suriah di perbatasan Suriah-Turki.

Kedua warganegara Turki tersebut, perempuan penerjemah di satu kamp pengungsi di kota Kilis di Turki selatan dan seorang perwira polisi, cedera ringan ketika pasukan keamanan menembaki orang Suriah yang melarikan diri.

Suriah menuduh kelompok bersenjata menyusup ke dalam wilayah Suriah melalui Turki dan Lebanon. Menurut SANA, pemerintah Suriah menggagalkan dua upaya penyusupan oleh kelompok bersenjata dari wilayah Lebanon, Senin pagi.

Tentara pemerintah Suriah telah bentrok dengan pasukan gerilyawan di provinsi Idlib, Suriah utara, dekat perbatasan Turki guna mengusir mereka. Anasir bersenjata yang melarikan diri telah berusaha berlindung di Turki, yang menampung pemimpin gerilyawan dan gerilyawan yang melarikan diri, serta memberi mereka perawatan medis.

Kerusuhan baru tersebut terjadi sehari sebelum tenggat bagi penerapan rencana gencatan senjata yang diperantarai PBB, yang menyerukan penarikan tentara pemerintah dari berbagai kota besar paling lambat 10 April dan gencatan senjata paling lambat 12 April. Dewan Keamanan PBB mendukung rencana itu dan mendesak pemerintah Suriah agar mematuhinya sepenuhnya, terutama dengan tenggat 10 April bagi penarikan militer dari kota besar utama.

Rencana tersebut, yang diajukan oleh utusan PBB-Liga Arab Kofi Annan, tampaknya mulai terancam kegagalan. Sementara itu pemerintah Suriah menuntut jaminan tertulis bahwa kelompok bersenjata juga akan meletakkan senjata mereka, namun gerilyawan bersenjata menolak untuk memberi jaminan.



Pewarta:
Editor: Kliwon
COPYRIGHT © ANTARA 2026